Thursday, July 2, 2020

Laptop Saya Terkecil Di Dunia ! Install Linux Desktop di HP Android

Cara install linux di hp android
Kali ini, saya mau berbagi pengalaman unik.

Ya masih seputar ngoprek HP, tapi sekarang beda.

Kita akan menginstall salah satu Desktop Linux populer di smartphone kita.

Emang bisa ?

Bisa mas! Jaman sekarang gitu loh....

Lancar ?

Lancar Jaya pastinya !

Emang buat apa ?

Sebenernya, saya sudah lama kepingin punya laptop kecil, yang bisa di bawa kemana-mana.

Tapi bukan seperti netbook Intel atom single thread  saya yang lemot.

Tidak juga sebesar laptop dirumah, yang agak ribet dibawa-bawa.

Laptop besar itu, terkadang malah suka kejedot tembok pas didalem tas.

Males banget.

...

Yah seperti Mini Ultrabook itu lho, biasanya sekitaran 8-10 inchi..

Yang model macem GDP itu mas, bakal manis banget buat kerja. 
Harga GDP P2
dengan harga yang bisa bikin diabetes kalau denger untuk pertama kali

Nah, sebagai orang yang lagi seneng-senengnya nulis, saya bakal tambah seneng kalau saya bisa nulis dimana saja tanpa kendala usability perangkat.

Dan saya baru tau kenapa bos-bos itu suka pake perangkat yang memiliki portabilitas tinggi, biarpun cuma bisa pake buka Ms. Word dan Excel doang (extra: Power Point).

Setelah cari-cari produk, saya jadi salah fokus sama sederet angka dibawahnya.

Harga perangkatnya itu men, gilak!

Bisa lebih mahal dari laptop gaming dan editing kelas menengah.

Padahal cuman bisa buat browsing sama Ms. Office doang.

Itu yang saya ga habis pikir.

Mungkin karena portabilitas itu adalah domainnya orang-orang berduit kali ya ? Makanya bisa jadi ladang duit untuk vendor-vendor yang bikin perangkat sejenis.

Nah, disinilah saya coba cari solusi alternatif untuk permasalah saya ini.

Install full Ubuntu di perangkat Android

Mungkin saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengekspresikan kebencian saya sama yang namanya Windows.

Disamping banyak virus, suka nganceng ga jelas pulak.

Tapi banyak program populer yang support, duh.


Anyway..


Kali ini saya memutuskan untuk menggunakan Ubuntu sebagai base-operating system saya.

Karena, selain familiar, Ubuntu juga banyak punya program-program alternatif yang free dan berfaedah.


Semua hal yang saya butuhkan juga ada disana.

Editing foto ? Ada GIMP (alternatif photoshop)

Office Suite ? Ada Libre Office dan WPS Office (alternatif Ms. Office)

Browser ? Jangan ditanya lagi. (ada semua)


Dan ternyata, GAMPANG BANGET pasangnya!

Kita hanya perlu kontainer dan sebuah viewer untuk akses kontainer tersebut.

Betul sekali, ini ibarat make virtual machine, tapi bukan VM ya.

Ini menggunakan "chroot"

Bedanya disini, Virtual Machine itu membuat simulasi komputer dalam perangkat dengan spec yang bisa dibuat beda. 

Tapi kalau Chroot itu memasang sistem dengan shared kernel dan arsitektur.

Sehingga lebih snappy!

Tapi untuk bisa merasakan pengalaman Desktop di Android ini, kita harus root dulu.

Sisakan juga ruang penyimpanan kosong sekitar 3 atau 4 GB lah, supaya tidak ada kendala nantinya.

Nah yang langkah-langkah untuk memasang Ubuntu di Android adalah
  1. Download dan install aplikasi bernama Linux Deploy di Play Store
    Get it on Google Play
  2. Download dan install juga aplikasi VNC Viewer di Play Store
    Get it on Google Play
  3. Buka aplikasi Linux Deploy, dan masuk ke setting terlebih dahulu.
  4. Pilih distro Linux, dalam hal ini Ubuntu. Kalau mau yang lain, bebas.
  5. Pilih arsitektur ponsel Android kita, biasanya sih arm64
  6. Pada bagian GUI, centang Enable, dan pilih juga Desktop Environment yang kalian suka, bebas.
  7. Sisanya biarkan default, kemudian kembali ke tampilan awal
  8. Pilih Tanda titik tiga di pojok kanan, dan tekan Install
  9. Tunggu proses instalasi.
Proses pemasangan membutuhkan waktu, jadi agak bersabar saja.

Setelah semua proses selesai tanpa error, dan pada konsol muncul tulisan >> Deploy.

Wah, ini artinya semua sudah siap, dan seketika itu juga saya tekan tombol Start.

Kemudian, sesuai instruksi, saya buka aplikasi VNC Viewer untuk mengakses GUI yang saya pilih.

Saya masuk ke "localhost", dan memasukkan password yang saya set sebelumnya..

Jeng, jeng, jeng.. Langsung tembus ke Desktop bro !

Tampilan desktop
tampilan desktop dengan program pengolah gambar terbuka

Ga pake booting segala.

Kaget juga ya (maklum pemula)

Karena network dan segalanya service utamanya jalan, langsung dah saya buka terminal dan jadi liar.

Saya pasang dah tu semua, Firefox, Gimp, Libre Office

Eh, tapi tunggu dulu

Memang kebanyakan program yang ada di Linux dapat langsung diinstal. 

Namun bukan berarti semuanya kompatibel.

Oleh karena arsitektur ponsel kita kebanyakan ARM64, maka program yang hanya dirancang untuk X86, X64, dan lainnya tidak dapat digunakan.

Contohnya saja WPS office yang biasa saya pakai di Mate Desktop di netbook saya.

Tapi kebanyakan program yang kita butuhkan bisa jalan kok!

Bottomline

Dengan temuan ini, saya jadi sedikit lebih hepi, karena tau ponsel saya tidak cuma segitu-segitu saja.

Ternyata ada bakat terpendam didalamnya.

Terlepas dari kenyamanan kerja menggunakan sistem ini yang masih sedikit kurang, saya rasa ini pantas dicoba.

Gimana menurut kalian ?


Thursday, June 25, 2020

URGENT ! Ransomware CryCryptor Android Bikin Heboh, Begini Supaya Terhindar !

Cry-cryptor-android-ransomware-terbaru
Halo teman-teman, ada yang baru nih.

Selain virus Corona yang mewabah, ternyata ada virus lain yang sedang bikin heboh negara barat sana.

Virus di Android gess.

Strain baru Ransomware ini menarget negara Kanada yang baru saja mengumumkan pengembangan aplikasi tracing Covid Alert.

Rencananya sih aplikasi Covid Alert yang asli ini akan dirilis untuk testing ke publik bulan July depan.

Tapi ternyata, kesempatan ini digunakan oleh orang yang kurang bertanggung jawab untuk mempromosikan aplikasi bedebahnya, sehingga orang jadi salah kira dan menganggap bahwa aplikasi tersebut adalah aplikasi resmi buatan pemerintah.

Gimana ga ketipu pren, Websitenya saja terlihat apik dan menarik, serta menggunakan top level domain, sehingga terkesan official.

Ransomware CryCryptor di Android
yang iseng emang niat banget


Untungnya, ESET, selaku perusahaan yang bergerak di bidang keamanan cyber, melakukan langkah cepat setelah mendapatkan informasi dari twitter, dan langsung kontak pemerintah Kanada.

Saya pun setelah membaca berita aneh ini malah jadi takut.

Denger kata-kata "Ransomware", saya jadi inget sama kejadian WannaCry beberapa tahun silam.

Ketika itu saya masih jadi staff di salah satu Resort di Ubud, dan menyaksikan sendiri gimana team IT sibuk backup-backup data dan update antivirus.

Nah, beda dengan WannaCry yang lebih menarget PC dan perusahaan multinasional, sekarang CryCryptor di Android menyasar data-data pribadi kita.

Duh, amit-amit

Skema penyebaran virus ini, mirip seperti aplikasi-aplikasi spam yang biasa ada di website-website yang meragukan.

Karena sudah ketipu dari awal, mereka yang masuk ke web ini akan diarahkan untuk mendownload aplikasi tersebut melalui sebuah link yang terlihat meyakinkan, seperti dalam kasus ini, tombol play store yang sangat familiar.

Tapi, bukannya masuk ke play store, aplikasi malah langsung terdownload ke ponsel kita.

Tentu kita juga diarahkan untuk menginstal aplikasi tersebut, walau dengan status pihak pengembang yang belum dikenali.

Nah, setelah kita mengizinkan segala permission yang direquest aplikasi ini, barulah aksinya ketahuan.

Tampilan ponsel yang terinfeksi
tampilan ponsel terinfeksi
sumber: ESET

Muncul sebuah notifikasi bahwa semua file pribadi telah terenkripsi, dan satu-satunya cara untuk membuka enkripsi tersebut adalah menghubungi si pembuat virus dan membayar sejumlah uang.

Amazing.

Tapi gimana caranya supaya terhindar ?

Untungnya ESET telah merilis tool untuk keperluan dekripsi bagi mereka yang file nya telah ter-enkrip oleh ransomware ini.

Untuk filenya bisa didapatkan disini

Dan ternyata, website penyebarnya juga sudah di take-down.

Tapi kejadian ini sebenarnya membuka mata kita lebih lebar lagi mengenai bahaya download aplikasi pihak ketiga pada website diluar playstore.

Seperti aplikasi crack atau mod itu misalnya.

Jangan khawatir mas, android sebenarnya merupakan sistem yang aman

Lagian kejadian seperti di atas merupakan murni kesalahan pengguna, yang mana secara sadar mengizinkan instalasi dari sumber yang tidak diketahui serta semua permission request yang diminta aplikasi tersebut.

Bagi kalian yang tidak begitu yakin untuk menginstal aplikasi dari sumber luar, mendingan jangan deh.

Kecuali kalau kalian tau betul apa yang kalian lakukan dengan segala konsekwensinya.


Stay safe mas !


Header : drobotdean

Thursday, June 18, 2020

Inilah Alasan Kenapa HP Smart, Tapi Teknologi Batre Masih Belum Canggih !

Kenapa batre cepat habis dan belum canggih
Pagi hari bikin kopi, enaknya sambil baca berita dan video Youtube di HP

Eh ternyata batre sekarat dan minta segera di charge.

Sial, saya lupa charge kemarin karena ketiduran

Duh, kebiasan..

Eh, tapi bentar bentar.. kenapa ya smartphone jaman sekarang yang katanya canggih itu, hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam, walaupun itu hanya penggunaan normal ?

Nah lho ?


Ada apa dengan batre ?

Banyak yang tanya, kenapa smartphone yang begitu canggihnya sekarang ini, daya tahan batrenya terkesan kecil untuk sebuah perangkat mobile modern.

Sekedar untuk perbandingan, Nokia 3310 lama (rilis di tahun 2000), yang menggunakan teknologi Li-Ion berkapasitas hanya 1000 mAh,  seperti dilansir telegraph.co.uk, mampu bertahan selama satu minggu tanpa di charge sekalipun.

The original 3310’s battery would last about a week

Lompat ke generasi selanjutnya, Nokia N95 (rilis tahun 2007) yang menggunakan Li-ion 950 mAh mampu bertahan selama 220 jam, atau selama 9 hari.

Lalu ada Blackberry Pearl di tahun 2010 yang bedasarkan data GSM Arena, mampu standby di 432 jam, atau 18 hari dengan Li-ion 1150 mAh

Wow, semakin lama saja daya tahan ponsel tersebut.

Sekarang bandingkan dengan smartphone paling canggih dah.

Asus ROG Phone II dengan Li-Po battery 6000 mAh yang memiliki endurance rating 114 jam, atau sekitar 4 - 5 hari.

Atau kalau kalian Apple fanboy, iPhone 11 Pro Max hanya bertahan 102 jam, atau sekitar 4 harian.

Disini, ketahanan perangkat itu tiba-tiba menurun, 

Lho kok ?

Padahal, kapasitas batrenya itu sudah sekitar 6 kali lebih besar.


Emang sih, penggunaan daya setiap perangkat itu berbanding lurus dengan kemampuannya. Jadinya semakin canggih perangkatnya, semakin banyak juga ngabisin daya

Tapi kenapa HP tambah smart malah makin cepat loyo ?

Kenapa tidak dibuat tahan lebih lama ? Tambah kapasitas batre jadi 20,000 mAh misalnya..

Teknologi kan semakin canggih ?


Begitu kurang lebih cuitan orang-orang...

Perkembangan teknologi batre tidak secepat perkembangan smartphone.

Menganalisa tren perkembangan batre tidak semudah sekedar browsing di beberapa website.

Ada argument yang pro terhadap statement bahwa  diatas, banyak juga yang kontra.

Tapi disini saya jelaskan, tolak ukur penilaian terhadap ketahanan batre bukanlah standby time.

Jadi ya, cerita diatas kurang relevan.


Memang sih, kalau dipikir-pikir lagi, perkembangan pesat smartphone kita, entah android atau iphone tidak dibarengi oleh perkembangan teknologi batre yang sepadan.

Masih belum.

Ini dikarenakan karena tantangan terhadap development batre menurut saya sangatlah tinggi.

Mulai dari aspek teknis, politik, pendanaan riset, dan lain sebagainnya.

Dan disini, saya suka mengutip ide salah satu professor di MIT, Nicholas Negroponte yang membagi teknologi menjadi dua jenis.

Yang pertama teknologi berbasis atoms, yang kedua berbasis bits.

Nah, untuk yang berbasis bits, teknologinya didorong oleh perkembangan IT yang tumbuh secara eksponen dan mampu melipat-gandakan kemampuannya setiap beberapa tahun.

Smartphone dengan segala chipset yang sering dibahas orang cohtohnya.

Tapi disini batre masuk ke teknologi berbasis atoms, yang mengandalkan pure material, dimana tantangan terberatnya saat ini adalah menemukan material yang lebih ringan dan efisien selain lithium.

Apa itu berarti kita akan terjebak dengan teknologi Lithium-ion sampai akhir hayat kita ?

Tidak juga!

Nah, dengan ngetrend nya mobil elektrik seperti Tesla, saya pikir riset di bidang batre ini akan semakin digalakkan.

Untuk sekarang, ada beberapa ide alternatif, seperti menggunakan Graphene, teknologi Lithium-Silicon, Solid State Battery, dan yang lainnya yang masih digodok sebelum dapat secara aman dan efektif digunakan pada smartphone.

Sssstt... dan saya dengar-dengar juga, batre dengan teknologi graphene mampu membuat proses charging jauh lebih singkat tanpa mengorbankan umur batre, dengan kerapatan energi sekitar 60% lebih rapat dibanding Lithium-Ion yang banyak kita andalkan sekarang. 

Potensi batre dengan material graphene
potensi graphene dibanding Li-ion tradisional
sumber : nanographene.net


Ditambah juga heat-dissipation yang lebih baik, dijamin bikin ngiler para gamer.

Ini artinya, kalau sampai kejadian, perangkat kita akan jadi lebih tipis dan adem.

Tapi sampai saat itu tiba, sepertinya kita harus bersabar.

Bottomline

Walau memang iya perkembangan teknologi batre tidak secepat perkembangan teknologi smartphone, setidaknya semakin kesini smartphone kita semakin efisien dalam penggunaan daya lho.

Jadi jangan terlalu khawatir

Apalagi sudah ada beberapa kandidat alternatif, yang siap menggeser kejayaan Li-ion dalam beberapa tahun kedepan.

Selow aja pokoknya..

Menurut kalian gimana ?

Monday, June 15, 2020

Tangi, Aplikasi Gabungan Tiktok dan Pinterest Untuk Sharing Tutorial

Tangi, Aplikasi sharing ide yang trend saat ini
Bukan Google namanya kalau tidak selalu melakukan eksperimen !

Kali ini, melalui sebuah proyek inkubasi bernama Area 120, Google merilis sebuah aplikasi yang mirip Pinterest, sharing inspirasi dan tutorial DIY.

Namanya Tangi gess.

Tampilan web Tangi
tampilan home tangi

Bedanya, tidak seperti Pinterest yang hanya berbagi foto, Tangi memilih video pendek sebagai core contentnya.

Saya sendiri heran, kenapa namanya "Tangi" ya ? Lebih kedengaran seperti "bangun" dalam bahasa Bali.

Mungkin maksudnya supaya kita bangun, begitu ?

Tapi ternyata, seperti keterangan yang diberikan oleh sang pembuatnya, Tangi disini merupakan singkatan dari "TeAch aNd GIve", atau "tangible" yang kasarnya berarti "nyata"

Inspirasi Tangi sendiri muncul dari sebuah pengalaman pribadi dari sang pendiri, Coco Mao, dimana dia mendapati kedua orang tuanya senang menonton video tutorial fotografi dan melukis melalui ponsel pintarnya.

Dia pun kaget sekaligus senang kan, kok tiba-tiba ibunya mendadak menjadi seorang oil-painter amatir.

Bergabunglah juga dia ke komunitas yang sama.

Bedanya disini dia masuk ke area memasak dan bidan fashion.

Akhirnya dia takjub sendiri, bagaimana sebuah video pendek tenyata dapat menyampaikan pesan yang lebih to the point dibandingkan dengan sekumpulan teks dan gambar.

Lahirlah Tangi.


Tidak sepert Tiktok yang berorientasi lebih ke hiburan, Tangi mendedikasikan hidupnya supaya pengguna bisa mengeksplor dan mempelajari hal-hal baru.

Ini dapat dibuktikan dengan adanya sebuah tombol aneh dan unik yang bertuliskan "Try It", yang mana mendorong pengguna untuk mencoba tutorial yang ditontonya, kemudian mengunggah jepretan hasil jadinya untuk dibagikan pada video yang sama, sehingga orang-orang bisa berinteraksi.

Tampilan tangi di ponsel
tombol try it yang unik


Inilah yang saya rasa akan membuat Tangi menjadi salah satu platform favorit untuk berbagi ide.

Nah, karena tujuan dibuatnya sendiri adalah untuk memudahkan pengguna menemukan tutorial berkualitas, ini menyebabkan limit videonya hanya sekitar 1 menit atau kurang.

Untuk sementara, mengupload video di Tangi tidak seterbuka platform lainnya. Kita harus melamar dulu untuk menjadi bagian dari kreator Tangi.

Mungkin supaya platform yang baru seumur jagung ini terjamin kualiatas kontennya.

Tapi untuk kedepannya, tidak menutup kemungkinan siapapun bisa mengunggah konten dengan bebas.
Get it on Google Play




Friday, June 12, 2020

Inilah Alasan Kenapa Saya Tidak Membeli HP Keluaran Terbaru (Belum)

Alasan Tidak Membeli Ponsel Keluaran Terbaru
Setiap bulan ada saja ponsel terbaru yang keluar yang menawarkan fitur-fitur terbaru. 

Sangat banyak memang menurut saya bermanfaat,.

Tapi dengan segala macam fitur tersebut, kenapa saya belum ada keinginan untuk membeli ponsel baru, dan mengganti Redmi 4X kuno saya ?

Saya sendiri heran ya,  (Lho kok ??)

Sebegitu gencarnya orang-orang pada membicarakan spek, fitur, teknologi termutakhir ponsel.

Kenapa saya tidak ikutan rame juga ?

Jangan-jangan saya tidak normal ??

...

Nah, setelah saya bermeditasi mendalam, saya menemukan jawabannya.

Memutuskan untuk membeli ponsel baru ternyata harus memenuhi 2 syarat.

#1. Budget n Benefit

Saya tidak akan menyangkal, fitur-fitur ponsel jaman sekarang itu sudah sangatlah menggiurkan.

Tapi kalau dilihat lagi dari segi kebutuhan, saya rasa masih belum klop sama saya ya..

Kebanyakan ponsel jaman sekarang itu orientasinya ke gaming.

Sedangkan saya bukanlah seorang gamer PRO.


Jangan salah, duit selalu ada mas...

Tapi kalau ditanya, akankah saya menghabiskan duit 10 juta hanya untuk ponsel yang bisa dipakai untuk bermain game supaya lebih lancar ?

Jawabanya tidak sama sekali.

Dan mungkin jawaban kalian lain.



Saya jadi ingat dulu pas masih SMA, ketika zaman Blackberry merajai pasar ponsel di indonesia, sekitar tahun 2008 - 2011 an

Saat itu saya masih pakai Sony W810i, 

Ya ga cupu-cupu amat lah..

Dan saya pikir, kalau saya beli BB juga, apakah saya jadi auto-keren ?.

Pacar sudah punya, manis pula.

Komunikasi juga masih lancar tanpa BB. 

Tapi setelah munculnya Android, terutama pas keluarnya Samsung Galaxy Gio di tahun 2011 seharga 1,8 jeti, yang menawarkan sebuah ponsel layar sentuh dengan kemampuan multimedia yang dibilang lebih dari BB, tabungan saya langsung saya bongkar.

Tentu saja saya dibantu dengan suntikan dana dari dari sepupu sekaligus boss saya ketika training PKL, Pak Donal. (jaman high school cari duit susah mas)

Alhasil saya jadi orang pertama dengan Android di kelas yang bisa menonton video 480P Uncensored dengan layar colek dan lebih besar di ponsel.

Ahh.. masa-masa itu kalau diingat..

Oke-oke, cukup bernostalgia, mari kita lihat syarat yang satunya. 

#2. Ada kecacatan di ponsel lama

Kecacatan merupakan alasan utama seseorang untuk mengganti ponsel. Cacat ini bisa karena kecelakaan, atau faktor umur.

Kalau sudah sempat jatuh dan layar retak, walaupun kalian masih tetap bisa menggunakannya, pasti ada insting untuk mengganti layar, atau malah membeli ponsel baru (kecuali kalau kalian pegang flagship)

Tapi kalau penggunaan kalian apik-apik saja, jangan senang dulu. 

Masih ada yang namanya "Faktor U".

Seperti segala hal di dunia ini, pasti akan memudar seiring berjalannya waktu

Nah, biasanya hal yang paling pertama bermasalah adalah kapasitas batre.

Biarpun kalian pegang HP flagship sekalipun, batre yang dibenamkan di ponsel kalian tetaplah sama dengan batre HP middle-end kebawah, (dari segi teknologi cell nya ya..)

Dan performa batre akan selalu menurun dengan rate yang sama juga.

Kecuali ada penyebab lain lagi yang menambah pendek umur batre, seperti siklus charge, panas, dan sebagainya, tambah sial lagi.


Kalau diingat-ingat, pada era Android ini, saya hanya pernah pegang 3 HP, yaitu; Galaxy Gio, Galaxy Ace II, dan yang terakhir Redmi 4X.

Galaxy Gio tentu sudah jelas asal-usulnya.

Nah, kemudian saya beralih ke HP kedua, Galaxy Ace II di akhir tahun 2012, karena ingin upgrade ke arsitektur ARMv7, supaya bisa mendukung kebanyakan aplikasi keren di Play Store.

Yang terakhir, Redmi 4X sampai ke genggaman, ketika saya sudah bosan gonta-ganti batre Ace 2, sekitar di tahun 2017.

Sekarang, sampai saya menulis ini, saya masih bertahan di Redmi 4X.

Bukannya mulus mempesona, ponsel saya sekarang ini juga memiliki sebuah downside, yaitu kualitas rekaman audio yang noisy ketika gunakan mic eksternal.

Pokoknya buruk lah.

Saya tidak tau apakah ini disebabkan oleh upgrade Android 10, atau memang ada kecacatan fisik.

Sayang sekali saya terlalu malas untuk mencari tau, sekali lagi karena memang belum perlu.

Yap, jadi kesimpulannya saya tidak begitu terganggu dengan kecacatan HP saya sekarang.

Bottomline

Ponsel baru memang selalu menarik dan memikat.

Tapi maaf, ternyata masih belum menarik saya punya hasrat.

Kalau disimpulkan, semua dasarnya adalah kebutuhan.


Mungkin nanti ketika HP sudah bisa digunakan untuk mengambil video dengan Shallow Depth of Field (efek blur DSLR), baru saya berniat merogoh kocek.

Atau kalau Redmi 4X saya tiba-tiba rusak.

I don't know.

Or do I ?


Header: cookie_studio

Powered by Blogger.