Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, June 6, 2021

Penjelasan Status Received at Warehouse Yang Perlu Kita Ketahui

Received at Warehouse, Apa Artinya Yak ?

Jika kita sering berbelanja online dan menerima kiriman paket JNE, pasti tidak asing kan dengan status "Received at Warehouse"

Terutama jika kita sering cek status pengiriman menggunakan resi yang diberikan.

Tapi apa sih sebetulnya arti dari status pengiriman tersebut ?

Apakah menandakan masalah pada pengiriman paket kita ?

Mari kita bahas sama-sama

Arti Received at Warehouse

Jika diteliti lagi, secara lingusitik sebetulnya "received at warehouse" merupakan kata-kata dalam bahasa Inggris yang artinya cukup jelas.

Warehouse memiliki arti literal "Gudang" dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan untuk kata "received" itu berarti "diterima"

Jadi received at warehouse bisa diartikan bahwa paket yang dikirimkan telah sampai dan diterima oleh "gudang"

Nah, gudang yang dimaksud merupakan gudang kota tujuan, kota yang telah ditentukan oleh sang penerima paket sebagai tempat tujuan pengiriman.

Dan karena prosedur pengiriman yang harus melalui warehouse, maka status ini pasti muncul pada tracking paket JNE kita semua.

Apa yang harus kita lakukan ketika menemukan status itu?

Gampang saja,

Jika diperhatikan, ketika kita melakukan tracking, biasanya status pengiriman ini akan diikuti oleh nama kota dari warehouse tersebut

Jadi kita sebagai konsumen akan merasa lebih aman karena biasanya fokus terhadap nama kota yang sudah kita kenali.

Misalnya saja kita berdomisili di Jakarta, kemudian melakukan tracking dan melihat status pengiriman paket bertuliskan RECEIVED AT WAREHOUSE [JAKARTA, GARUDA (DESP PST)], berarti sederhananya paket sudah di gudang JNE yang terletak di Jakarta Pusat.

tampilan status pengiriman pada fasilitas tracking paket menggunakan resi


Kita hanya perlu sabar menunggu paket tiba, karena status ini mendandakan bahwa paket sudah dekat

Berapa lama sejak Received at Warehouse hingga paket sampai?

Umumnya, dari sejak awal status pengiriman ini terbit, butuh rata-rata dua hari sampai kita bisa menerima paket yang kita tunggu.

Akan tetapi, walaupun status ini menandakan bahwa paket sudah dekat, ternyata tidak menjamin berapa lama lagi paket akan sampai di tangan kita.

Ya, hal ini wajar saja, karena dalam bisnis yang namanya kendala itu pasti ada.

Misalnya saja pada suatu kasus yang menimpa seseorang pelanggan JNE di tahun 2020 lalu, sejak awal munculnya status "received at warehouse" hingga terkirim [delivered] itu memakan waktu hingga 6 hari.

tampilan status pengiriman dengan delay antara "received at warehouse" dan paket diterima


Walau tidak jelas penyebab delay dari pengiriman itu, setidaknya ini menjadi bukti bahwa jika paket sudah dekat, tidak serta merta akan sampai ditangan dengan dalam waktu dekat.

Nah, jika sudah begitu maka satu-satunya solusi yang bisa dilakukan adalah menghubungi gudang tersebut perihal status barang kiriman kita.

Penutup

Nah, itu dia sedikit penjelasan mengenai status Received at Warehouse JNE.

Sekali lagi, kita tidak perlu khawatir jika status pengiriman ini muncul pada tracking resi paket kita.

Yang jadi konsen hanyalah ketika status ini bertahan selama lebih dari 3 hari, tanpa update ke status lainnya.

Karena kalau sudah begitu, lebih baik ditanyakan langsung ke pihak yang terkait untuk mendapatkan solusi terbaik.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat.

Jika kita sering berbelanja online dan menerima kiriman paket JNE, pasti tidak asing kan dengan status "Received at Warehouse...

Tuesday, May 25, 2021

Inilah Kenapa Kita Tidak Perlu Cari Pengganti Google Photos

Inilah kenapa kita tidak perlu beralih dari Google Photos

Mungkin tidak sedikit dari kalian yang sempat baca artikel saya mengenai perubahan kebijakan yang akan diterapkan Google awal Juni tahun 2021 ini.

Perubahan yang pastinya akan membuat kita sebagai penikmat cloud storage unlimited Google Photos mengerutkan kening dan berharap supaya semua berita tersebut hoax atau semacamnya.

Tapi setelah dipikir-pikir apakah dengan begini kita harus cari alternatif gratisan lainnya

Ternyata ngga juga gess..


Kenapa kita mesti stay sama Google Photos

Ada banyak alasan kenapa Google Photos merupakan layanan yang paling membuat nyaman.

Salah satunya adalah karena berbagai kemudahan yang ditawarkan tanpa harus membuat penggunanya pusing-pusing.

Misalnya saja proses backup otomatis sesuai folder yang kita tentukan.

Udah banyak yang tau kali ya..

Tidak ada hal yang mesti kita lakukan untuk proses backup tersebut, selain hanya setting folder di awal.

Sisanya, biarkan program yang bekerja.

Dan dalam sekejap, foto yang kita ambil di perangkat mobile sudah bisa diakses di semua perangkat, baik laptop, PC dan lain sebagainya.

Tapi nih, pengalaman Google Photos yang sebenarnya baru akan kita rasakan setelah proses backup ini selesai bro.


Photo Organizer terbaik

Fitur pencarian yang membuat kita serasa berinteraksi dengan manusia ini jarang banget kita temukan di layanan lain

Misalkan saja kita punya kenangan mendaki gunung beberapa tahun yang lalu.

Kita sebagai manusia yang tidak sempurna kan sering banget lupa akan tanggal kejadiannya, terus kita simpan fotonya dengan nama apa

Paling-paling kita hanya ingat deskripsi dan kejadian-kejadian aneh dalam kegiatan pendakian tersebut.

Nah, dengan Google Photos ini, hal yang perlu kita lakukan hanyalah mengetikkan hal yang berkaitan dengan foto tersebut.

Misalnya saja dengan kata kunci “Gunung”

Beres deh, semua foto yang ada hubungannya dengan gunung akan muncul seketika.

fitur pencarian Google Photos yang manjur

Layanan Google Photos ini juga mampu melacak tulisan dalam gambar.

Integrasinya dengan Google Lens memudahkan kita untuk mengambil informasi langsung dari gambar yang berisikan teks.

Nah, teks disini juga tidak harus berbahasa inggris, karena Google kan punya layanan translate juga.

Dengan begini, kita juga dapat dengan mudah menemukan foto yang memiliki teks yang sedikit tidaknya kita ingat.


Hal lain yang memberi sentuhan personal adalah Memories, atau dalam bahasa Indonesia disebut Kenangan

Fitur ini dengan so sweetnya mengingatkan kita terhadap foto kenangan beberapa tahun lalu, di tanggal yang sama dengan hari ini.

Belum lagi memories ini bisa berbentuk Animation, Themed Videos, Collage, dan fitur-fitur menarik lainnya yang dapat mengubah foto-foto yang membosankan menjadi lebih menarik dan nostalgic

Pokoknya belum ada layanan yang memberikan fitur-fitur sejenis pada versi layanan gratisannya.


Editing & Kolaborasi

Google Photos juga memiliki fitur editing photo yang dapat digunakan untuk melakukan retouch terhadap foto-foto yang sudah di backup.

Kita dapat memperbaiki pencahayaan, mengurangi noise, bahkan memberikan efek bokeh (portrait) untuk foto-foto kita supaya jadi lebih menarik.

Ya walaupun tool-tool editing nya masih basic, tapi cukuplah untuk memperbaiki foto-foto kenangan kita dan membuatnya semakin pop-out.

Tapi ada satu lagi nih, namanya fitur kolaborasi.

Biasanya kan agak sulit tuh kalau kita minta foto-foto hasil jepret sama temen, habis hangout kemana gitu..

Nah dengan Google Photos ini, semua dipermudah.

Kita tinggal invite beberapa orang yang bisa diajak collab foto, abis itu tinggal sync foto ke satu folder.

Satu folder ini akan selalu auto-update kalau ada temen kolab yang nambah foto kesana.

Dan tidak lupa, semua member memililki akses terhadap folder tersebut.

Sekarang coba bayangkan kita kolab sama pasangan masing-masing.

Kenangan dari awal ketemu sampe nikahan dan punya keturunan terdokumentasi dengan baik secara kronologi!

Fitur dambaan banget!


Nah, itu dia beberapa fitur kunci yang saya rasa tidak ada di layanan sejenis lainnya.

Yah, walaupun dalam akun freenya Google hanya memberikan storage 15 GB, tapi saya rasa sementara ini itu cukup.

Kita hanya perlu jadi agak selektif dalam mempertahankan media yang ada di akun tersebut.

Yang tidak terlalu penting, ya dihapus saja.

Atau kalau ada duit yang perlu dibelanjakan, kalian bisa setor ke Google tuh Rp. 269.000 per tahun, untuk storage sebesar 100GB di tahun tersebut.

Demi kenyamanan, bayar duit segitu sebanding dong ya..

Mungkin tidak sedikit dari kalian yang sempat baca artikel saya mengenai perubahan kebijakan yang akan diterapkan Google awal Juni tahun...

Tuesday, May 11, 2021

Tulisan Ini Akan Membuatmu Tak Pernah Kehabisan Storage Di Android!

Pentingnya pengelolaan berkas media penyimpanan Android

Perangkat ponsel pintar kita kini memiliki rata-rata 256 Gigabyte kapasitas penyimpanan untuk banyak sekali file yang dapat kita koleksi.

Ternyata bagi kebanyakan orang, kapasitas sebesar itu masih kurang karena banyaknya file yang mereka simpan

Pada akhirnya tetap memicu pesan populer "insufficent storage available"

Dan itu adalah sebuah masalah.


Berapa kapasitas yang "cukup"?

Mungkin kebanyakan solusi yang akan dikatakan orang adalah menambah kapasitas penyimpanan tersebut dengan SD card, atau bahkan membeli perangkat baru yang memiliki media penyimpanan lebih besar.

512 GB misalnya..

Yap, betul,

Penampungan yang lebih besar, untuk sampah yang lebih banyak.

Super sekali!


Jangan salah sangka dulu, saya bukannya anti dengan yang namanya media penyimpanan yang besar.

Karena saya sendiri memerlukannya,  misalnya untuk menyimpan file video mentah yang belum diproses atau diedit.

Dalam hal ini, bigger is better.

Dan ketika sudah tidak diperlukan, file mentah tersebut dapat diarsip di media lain, atau dihapus saja.

Tapi ini bukanlah permasalahan yang akan saya bahas.


Pernah suatu hari saya ditanyai oleh seorang rekan kerja satu shift tentang penyebab kenapa ia tidak bisa menginstal sebuah aplikasi di Play Store.

Dan setelah saya cek, isi ponselnya itu penuh dengan aplikasi dan film.

Ketika saya minta dia untuk menghapusnya, dia jawab "sayang banget"

Ya, saya heran kan.. kenapa gitu ?

Tapi sepertinya saya tau alasannya.


Besar kemungkinan nih, dengan segala kemudahan yang ada saat ini, ternyata banyak orang menjadi bingung akan hal yang benar-benar mereka butuhkan.

Bahkan seringkali mereka tidak tau apa perbedaan kebutuhan dan keinginan.

Nah, hal ini juga berlaku pada file-file digital.

Kalau dulu jelas, dengan kapasitas yang sedikit, kita tau betul apa yang harus disimpan, dan apa yang bisa dihapus.

Nah sekarang, karena banyaknya file yang numpuk, malah jadi bingung mau hapus yang mana.

Semua jadi serasa penting.

Terutama file yang unik-unik

Bahkan ketika kita berniat untuk menghapus sebuah file pun, kita masih dihantui rasa takut akan memerlukan file tersebut dalam waktu dekat.


Kalian tau? berapapun kapasitas media penyimpanan yang diberikan sejatinya tidak akan pernah cukup kalau kita sebagai user tidak tau cara mengelolanya.

Ini sama seperti mendekorasi ruangan, kita akan selalu kekurangan ruang jika kita tidak pintar dalam mengatur letak, serta tau mana yang dibutuhkan dalam ruangan tersebut, dan mana yang pantas dihilangkan.


Belajar dari kasus tadi, sebetulnya ada beberapa pertanyaan yang bisa kita tanyakan ke diri sendiri ketika menghadapi situasi media penyimpanan yang penuh.

Seperti misalnya, apakah file-file ini penting dan akan dibutuhkan dalam waktu dekat ?

Jika jawabannya adalah penting, namun tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, solusinya ya file tersebut bisa kita backup atau arsipkan di media penyimpanan lain.

Cloud storage misalnya.

Atau pertanyaan lainnya seperti ; apakah file ini ada di internet ?

Jika jawabannya ada, kenapa file tersebut mesti disimpan di storage internal kita ?


Nah, pertanyaan dan jawaban ini sifatnya tergantung kebutuhan kita sebagai pemilik dan pengelola perangkat.

Dan pasti berbeda untuk setiap orang.

Tapi sebelumnya, bagaimana caranya menemukan file-file ini ?

Gampang, 

Dengan sebuah aplikasi bernama Storage Analyzer


Cara menemukan dan menghapus file besar yang tidak diperlukan

Sebetulnya saya pernah membahas tentang Aplikasi pembersih media penyimpanan terbaik Android 

Dan seperti yang saya katakan di artikel tersebut, kebanyakan aplikasi pembersih yang ada di Play Store menurut saya masih kurang memuaskan.

Tapi tidak dengan aplikasi Storage Analyzer tadi.


Aplikasi ini dapat menyajikan data ukuran setiap folder di media penyimpanan kita, serta berbagai visualisasi yang memudahkan kita untuk menemukan folder gendut, serta file jumbo yang kita cari.

cara membersikan memori yang penuh
Tampilan dari Storage Analyzer & Disk Usage

Jadi, dengan hal ini kita dapat menemukan file-file besar yang tidak berguna, dan dari struktur foldernya bisa dilihat apakah aman untuk dihapus.

Kelebihan lainya dari aplikasi ini adalah kemampuan untuk preview file tersebut sebelum kita memutuskan untuk menghapusnya, jadi kita tidak akan sembarangan dalam proses ini

Caranya ya, kita tinggal memilih file tersebut untuk fungsi preview.

Untuk fitur lengkapnya, kita bisa cek di artikel tadi.


Nah itu dia sedikit pendapat mengenai besaran storage dan pentingnya kemampuan untuk mengelolanya.

Jika kalian ada pendapat, bisa dituliskan di kolom komentar dibawah ya..



Perangkat ponsel pintar kita kini memiliki rata-rata 256 Gigabyte kapasitas penyimpanan untuk banyak sekali file yang dapat kita koleksi....

Tuesday, May 4, 2021

Inilah Alasan Kenapa Batre HP Tidak Perlu Di Charge Sampai 100%

Inilah kenapa jangan charge batre sampai 100%

Ada banyak mitos-mitos yang beredar mengenai bagaimana kita seharusnya memperlakukan batre smartphone kita.

Dulu juga saya sempat merangkumnya dalam sebuah tulisan di artikel Mitos-Mitos Batre

Dan nyatanya, masih banyak yang masih percaya terhadap mitos-mitos tersebut saat ini.

Nah sekarang, saya akan share sebuah pendapat lagi mengenai batre.

Yaitu jangan charge batre sampai 100% .

Apakah itu mitos atau fakta ? mari kita kupas sama-sama


Ada apa dengan batre 100% ?

100% merupakan kapasitas batre tertinggi, dimana setiap sel batre telah tersaturasi dengan maksimal, sehingga tidak mampu lagi untuk menyerap daya yang disuplai oleh adapter charger kita.

Nah, dengan mengisi batre sampai tahap ini, itu berarti kita telah memaksimalkan kemampuan batre yang kita miliki.

Tapi nyatanya, ini bukanlah sebuah pilihan jika kalian merupakan orang yang sangat peduli terhadap umur batre.

Menurut Battery University, batre lithium tidak perlu diisi sampai kapasitas maksimumnya.

Bahkan mereka menambahkan bahwa lebih baik jika batre tidak diisi sampai penuh.

Bukannya isapan jempol belaka lho..

Ini disebabkan karena high-charge-voltage (sekitar 4.20 V/cell) menimbulkan stress terhadap batre, dan titik kritis stress ini dimulai ketika kapasitas batre mendekati 100%.

Bahkan hal ini tidak dapat dihindari ketika batre zaman sekarang katanya sudah memiliki sirkuit proteksi sendiri, yang akan menurunkan tegangan ketika mendekati level pengisian 100%, dan memutus proses pengisian setelah mencapai titik maksimal.  

Hal ini sejalan dengan statement dari Huawei yang menyarankan supaya kita menjaga kapasitas batre sedekat mungkin dengan kapasitas setengahnya (50%) untuk umur batre yang maksimal.

Ini berarti 40% - 80% merupakan titik manis jika kita ingin melihat batre kita berumur lebih lama.

Temp

40% charge

100% charge

Tabel: Perkiraan kapasitas yang dapat diperoleh kembali ketika menyimpan Li-ion selama setahun dengan berbagai temperatur dan kapasitas charge

membiarkan batre dengan kapasitas penuh dalam waktu lama memperpendek umur batre

Sumber: batteryuniversity.com

0°C98% (after 1 year)94% (after 1 year)
25°C96% (after 1 year)80% (after 1 year)
40°C85% (after 1 year)65% (after 1 year)
60°C75% (after 1 year)60%
(after 3 months)


Nah, pada smartphone modern, contohnya saja iPhone yang menggunakan iOS 13 keatas, jika kita mengaktifkan mode Optimized Battery Charging, sistem operasi akan menganggap 80% adalah 100% yang baru, dan otomatis memutus aliran listrik jika batre telah terisi sampai kapasitas tersebut.

Pada vendor terkenal lainnya, seperti Samsung, mereka juga menyematkan fitur Protect Battery yang berhenti mengisi ketika sudah mencapai 85%.

Jadi jelas, para pemain besar smartphone juga ikut mempertimbangkan konfigurasi ini.

Dan ini semua tujuannya adalah untuk memperpanjang umur batre produk mereka.


Jadi ini merupakan fakta ?

Yak, betul sekali.

Mengisi batre secara tidak penuh dapat membantu kita dalam memperpanjang umur batre tersebut.

Tapi..

Ada tapinya nih..

Menurut saya, praktik ini memiliki pengaruh sangat kecil, bahkan sering kali dapat diabaikan.

Disamping itu, merupakan hal yang tidak praktis jika kita berusaha menjaga kapasitas batre tetap mendekati setengah dari kapasitas maksimumnya

Menjaga kapasitas batre di angka 20% - 100% yang biasa dilakukan orang-orang dikatakan merupakan "good practice" oleh para expert di bidang ini.

Dan dengan kebiasaan ini biasanya umur batre sudah cukup baik, jika tidak ada kecacatan lain..

Kuncinya adalah untuk tidak membiarkannya sampai habis, atau membiarkannya dengan kapasitas 100% jika ingin disimpan dalam waktu yang lama.

Biasanya, dikalangan pemegang smartphone di Indonesia, sebelum batre smartphone miliknya sekarat,  mereka sudah memiliki perangkat baru, yang berarti juga batre baru.

Ya umumnya pembelian perangkat baru ini terjadi dalam siklus dua tahun sekali.

Jadi dampak positif dari kebiasaan 40%-80% ini mungkin tidak akan dirasakan, karena sudah memiliki perangkat baru tadi.

Beda kasusnya jika kalian berkomitment akan mengganti perangkat hanya ketika perangkat tersebut benar-benar mati.

Mungkin hal ini baru akan bermanfaat dan terasa efeknya.


Nah, itu dia sedikit informasi mengenai batre smartphone saat ini.

Kalian termasuk orang yang strict dalam memelihara batre,  atau biasa aja ?

Bisa tulis pendapat atau pertanyaan kalian di kolom komentar ya..

Ada banyak mitos-mitos yang beredar mengenai bagaimana kita seharusnya memperlakukan batre smartphone kita. Dulu juga saya sempat ...

Tuesday, April 27, 2021

Inilah Kenapa Apple M1 Bakal Memulai Era Baru Di Dunia Komputer Desktop

Apple M1 bakal memulai era baru di dunia komputer desktop

Baru-baru ini banyak orang membicarakan perceraian Apple dan Intel dengan munculnya chip silikon besutan Apple bernama M1

Chip ini digadang-gadang merupakan gebrakan besar di dunia komputer desktop saat ini.

Segala kelebihannya dibanding kompetitor, bahkan mantan partnernya (intel), diumumkan dengan lantang, melalui WWDC 2020

Tapi kenapa repot-repot, Apple ??


Lambatnya Intel Dalam Berinovasi

Setelah sekian lama menjadi penguasa pasar dalam dunia microprocessor, Intel sepertinya terlalu PD akan posisinya selama ini.

Ya, gimana enggak sih, sudah kurang lebih 30 tahun mendominasi pangsa pasar CPU, siapa yang tidak ngembang kepalanya, coba..

Tapi dalam masa-masa jayanya tersebut, bisa dibilang inovasi yang dilakukan Intel malah kian melambat.

Ya, dari awal core2duo yang saya miliki di tahun 2008, sampai rilisnya i9 sekarang, kesannya intel masih gitu-gitu aja..

Ga ada yang Wow, gitu

Hal ini juga sempat dikeluhkan Apple ternyata.

Dan saya yakin banyak produsen lain mengeluhkan hal yang sama.

Walaupun banyak kritik yang masuk nih dalam masa perlambatan inovasi itu, anehnya dari Intel belum ada respon serius untuk menanggapi hal-hal tersebut.

Mungkin karena mereka masih terbuai dengan kesuksesannya selama ini.

Nah, setelah posisinya digoyang AMD dengan processor Ryzennya sejak tahun 2018, mereka masih aja dengan sikapnya yang sok cool gitu

Hingga kini Intel mendapatkan pukulan telak setelah diceraikan dan dibanding-bandingkan oleh mantannya partnernya sendiri

Baru deh mereka kebakaran jenggot.

Sampai-sampai akhirnya Intel ganti CEO di bulan Februari 2021 kemarin.

Dan tau apa yang mereka lakukan setelah tau hal tersebut ?

Bikin iklan ngejek Apple. 

Briliant!


M1: transisi Apple untuk sebuah ekosistem yang solid

Sebetulnya gerak-gerik Apple untuk beralih ke ARM bisa ketebak tujuannya.

Yaitu disamping untuk membuat chip yang dapat dikontrol penuh pengembangannya supaya sesuai dengan visi perusahaan, hal ini juga bertujuan untuk membuat suatu ekosistem yang unified, dengan penggunaan arsitektur yang sama disemua perangkatnya.

Nantinya, semua aplikasi yang ada di iPhone dan iPad, akan dapat dijalankan di MacOS.

Ini berkat arsitektur ARM yang sama yang digunakan di semua perangkat Apple tadi.

Bukan konsep yang baru memang..

Dulu di tahun 2016, ketika Google diam-diam mengembangkan OS baru bernama Fuchsia, konsep ini sudah terdengar, walau bukan merupakan statement resmi dari Google itu sendiri.

Tapi apakah Fuchsia dan Chip M1 itu pendekatannya sama ?

Tentu tidak.

Ketika Google masih berkutat di software, Apple sudah berani bermain hardware dan menantang pemain lama di bidang  tersebut.

Bahkan tak tanggung-tanggung, menggunakan teknologi fabrikasi terbaru, 5nm. 

Seperti apa yang mereka selalu katakan, mereka berani menantang status quo.

Dan ini, percaya atau tidak, membuka segala kemungkinan yang tidak terbatas!


Permulaan Era Baru

Dengan diluncurkannya M1, Apple mencoreng wajah Intel, yang kerjaan utamanya ya,.. membuat mikroprosesor

Seolah Apple sedang berkata kepada Intel "Eh, ngapain aja lu selama ini ? Gak becus!"

Tapi ternyata kesialan intel tidak sampai disitu.

Setelah melihat kedigjayaan Apple saat merilis M1, Nvidia ngikut dengan memulai project CPU berbasis ARM bernama Grace.

Apple telah membuktikan bahwa ARM mampu menyaingi performa X86 yang mendominasi pasar selama ini.

Dengan begini, semua pemain seperti Samsung, AMD, dan produsen lainnya mungkin akan mengikuti jejak yang sama.

Percaya atau tidak, bakal ada gebrakan besar lainnya dalam beberapa tahun kedepan!

Dan ini bakal menjadi persaingan pasar yang lebih kompetitif, yang akan mendorong inovasi komputer desktop lebih jauh lagi!

Baru-baru ini banyak orang membicarakan perceraian Apple dan Intel dengan munculnya chip silikon besutan Apple bernama M1 Chip ini ...

Tuesday, April 20, 2021

Inilah Kenapa Jadi Fanatik Satu Brand HP Bisa Buat Kamu Jadi Buta Akan Realita

Fanatisme brand membuat kita buta realita

Apakah brand HP kalian yang kalian pilih adalah brand terbaik di muka bumi ini ?

Apakah produk yang dihasilkan selalu keren, berkualitas, dan bebas dari defect ?

Dan apakah orang lain dengan brand berbeda itu cupu, pantas di rendahkan ?

Jika iya, maka selamat, anda merupakan seorang fanatik brand ponsel


Emang kenapa kalau fanatik ?

Sebelum saya jawab pertanyaan ini, pertama kita mesti tau dulu, apa sih yang dianggap sebagai fanatisme ?

Apa iya jika kita suka sebuah brand, maka kita sudah bisa dibilang fanatik ? 

Yaaa, engga gitu juga sob..


Saya adalah seorang fan sebuah brand ponsel bernama Xiaomi, karena mereka membuat produk dengan kualitas dan spek yang oke yang dapat dinikmati bagi masyarakat berbagai golongan. 

Saya juga merupakan seorang fan Samsung dengan S-Pen dan teknologi layar OLED nya yang saya rasa brilian banget, terutama untuk seorang seniman digital.

Dan tidak hanya sampai di sana, karena saya juga merupakan fan Apple dengan segala desainnya, baik hardware dan software yang solid banget, walau dengan harga yang membuat alis terangkat.

Eh, emang boleh ya jadi fan terhadap banyak hal ?


Ya tentu boleh dong, emang siapa yang ngelarang ?


Tapi, hal tersebut beda sama yang namanya fanatisme

Walau berasal dari kata yang sama, bagi saya ada perbedaan yang cukup kentara antara kedua kata ini.

Ini berkat adanya pelemahan makna dari kata fan itu sendiri.

Nah, fanatisme ini merupakan bentuk kesukaan terhadap suatu hal secara berlebihan (ekstrim).

Ketika kalian fanatik terhadap suatu hal, maka kalian akan cenderung kaku.


Dari beberapa tulisan yang saya baca, jadi fanatik itu bisa membuat kita buta akan realita lho.

Kenapa begitu ?

Ya sederhananya, karena kita akan menolak semua hal diluar keyakinan kita itu, bahkan kalau kenyataanya hal tersebut lebih superior terhadap hal yang kita yakini.

Lalu apa kaitannya dengan produk sebuah brand hp ?

Simpel aja, menjadi fanatik akan membuat kita terpaku terhadap sebuah brand dan menganggap brand tersebut unggul di segala bidang.

Jadi kalau diberi pertanyaan, "hp apa yang bagus untuk saya dengan budget 3 juta?", tanpa ditanyai lebih lanjut tentang kebutuhan dan preferensi yang lain, pasti jawaban yang kita peroleh dari seorang fanatik adalah brand yang mereka kagumi.

Bahkan lebih konyol, munculnya jawaban "mending nambah lagi 5 juta, dapat brand pujaan hati"

Duh..

Kondisi ini juga biasanya membuat seorang fanatik gagal melihat sisi positif produk lain, karena cap negatif yang terlanjur mereka berikan.

Alhasil penilaian kita terhadap suatu produk itu jadi tidak objektif, dan cenderung bias.

Padahal kita tau tidak ada brand yang menang di semua sisi, kan ?

Bisa aja sebuah brand itu punya spek oke, tapi ternyata ga sesuai budget kita.

Atau ternyata produk tersebut sulit di kustomisasi, sementara kita doyan oprek-oprek.


Nah dari yang sering saya lihat, ternyata para fanatik brand hp ini sering merendahkan orang diluar preferensinya.

Dan benar saja, karena fanatisme juga akan diikuti oleh sifat ofensif, yaitu kecenderungan untuk menyerang orang lain diluar kelompoknya.

Beda dengan yang namanya loyalist, walau mereka tetap stick pada satu brand, mereka tidak akan pernah menyerang kelompok lain.

Serangan ini bentuknya ya beragam. 

Bisa berupa sindiran, hinaan, hujatan, dan sebagainya.

Contohnya saja pada kasus "Us vs them" yang sangat jelas banget tergambar dari pengguna Mac dan PC beberapa tahun lalu, yang saya pikir sengaja dibuat oleh Apple untuk membuat penggunanya merasa spesial.

Atau untuk kasus yang di dalam negeri itu, yang dilakukan oleh kaum "mendang-mending", yang sering kali memberi "saran" tanpa ditanya.

Dan biasanya mereka itu ngeselin

Apakah dengan menjadi pengguna produk dari brand tersebut, kita bebas merendahkan produk yang dipilih orang lain ?

Tentu tidak lah, jon!


Bukannya yang namanya preferensi itu cukup disimpan untuk diri sendiri ya?

Contohnya ketika ada yang share kalau dia baru beli hp baru, kenapa ada orang lain yang malah kesel?

Kenapa mereka yang tidak setuju ?

Tapi kalau kita dimintai pendapat sih boleh aja ya kasih saran..

Nah, ini apa ? ditanya tidak, malah menyulut api pertengkaran yang kita tau tidak akan ada ujung dan hasilnya.

Ya karena biasanya akan berujung debat, bukan diskusi.


Dan pada akhirnya, sifat ini ternyata tidak hanya merugikan orang lain saja, melainkan juga akan menggerogoti diri sendiri.

Sebab itu tadi, tidak objektif dalam menilai produk.

Dan ketika mencari produk yang terbaik untuk diri sendiri, menjadi fanatik tidak akan membantu sama sekali. 

Karena produk terbaik itu jawabannya satu, yaitu "tergantung"..

Jadi Fanatik Satu Brand HP Bisa Buat Kita Buta Akan Realita


Apakah brand HP kalian yang kalian pilih adalah brand terbaik di muka bumi ini ? Apakah produk yang dihasilkan selalu keren, berku...

Tuesday, April 13, 2021

Nikmatnya Menggunakan TAB Android Murah Berkualitas Pengganti Laptop Ini!

Tab Android Pengganti Laptop

Tab Android, jika dibandingkan dengan laptop tentu kalah jauh dari segi performa mentah.

Kecuali jika Tab Android kalian ditenagai chip ARM M1 milik Apple yang katanya menyaingi processor intel i7 itu..

Tapi, ternyata ada banyak sisi lho yang dimenangkan oleh Tab Android di dalam kompetisi perangkat penunjang kerja terbaik.

Penasaran ? Mari kita simak!


Pengalaman memakai Tab Android sebagai pengganti laptop

Saya yang dulunya biasa menggunakan laptop standar 15 inchi-an untuk bekerja, sempat dibuat jatuh cinta dengan ringkasnya desain sebuah netbook berukuran 10 inchi.

Adalah Samsung N150, sebuah netbook yang menyertai saya dari awal dibangunnya blog ini.

penampakan netbook paling gagah dikelasnya


Gampang dipakai, compact, kemana-mana tinggal masukin tas slempang

Pas mau ngeblog lagi, tinggal dibuka.

Panas juga tidak begitu terasa ketika  ia melakukan tugasnya. 

Ga berisik juga lah..


Nah, singkat cerita, kesenangan saya menggunakan Netbook Samsung N150 tersebut harus berakhir di tahun 2018. 

Sang legenda harus dimuseumkan 

Bukan karena mesinnya mati, tapi karena layarnya yang sudah tidak berfungsi.

Yah, balik lagi dong pakai laptop segede gaban yang ga muat di tas slempang saya.

Rasanya itu seperti kebebasan yang direnggut, men!

Jadi males lagi deh..


Nah, seperti yang kalian tau, saya merupakan orang suka hal-hal simpel

Dengan adanya TAB S6 Lite yang saya miliki mulai tahun 2020, rasanya kebebasan yang hilang itu kembali saya dapatkan.

Sebetulnya banyak sih ada tab Android besutan Samsung yang lebih murah dan sama-sama memiliki S-Pen, contohnya Galaxy Tab A 2019 with S-Pen.

Tapi saya terlanjur kecantol sama Tab S6 Lite..

Dan sekarang ngeblog dan segala aktifitas digital saya jadi lebih asik dengan TAB desktop jadi-jadian ini

Bahkan jauh lebih asik dari pengalaman yang diberikan netbook terakhir saya.

Tapi lebih asik bagaimana ?

Karena hal-hal berikut gess..


Desktop Tab Android tidak perlu dimatikan, jadi tidak ada proses booting yang membosankan

Sebetulnya salah satu hal yang membuat saya males ngeblog pagi-pagi adalah proses booting laptop.

Enggak tau kenapa ya, males aja gitu..

Bayangkan, untuk sekedar nulis saya harus ngidupin laptop, nunggu booting, login dan ketik password, tunggu desktop environment selesai terload dengan aplikasi-aplikasi yang auto start, baru deh bisa nulis..

Terus kalau lagi buru-buru, proses shutdown atau sleep lumayan makan waktu hingga laptop tersebut benar-benar bisa dimasukkan ke tas.


Pernah suatu hari saya harus buru-buru ke kampus...

Saya matikan dong itu netbook, terus rencananya dimasukkan ke tas

Ya betul, saya lebih memilih shutdown ketimbang sleep dengan menutup lid karena kapok kejadian netbook hidup selama di dalam tas

Nah, lanjut cerita, ketika selesai mandi dan siap-siap segala macem, eh si netbook ini ternyata belum mati juga..

Saya positif dong ya, kali aja dia lagi proses apa gitu.

Saya tunggu lah, sambil ngangetin motor..

Ternyata setelah lima menitan, belum juga mati

Pada akhirnya, hard-shutdown merupakan jalan terbaik bagi kami berdua (dipaksa mati dengan menekan tombol power selama beberapa detik)

Wah, kalau sering-sering begini harddisk bakalan cepet metong dong...


Nah, kehidupan terbalik 180 derajat setelah saya pegang TAB S6 Lite yang simpel, ringkas dan secara umum lebih adem.

Walau lagi nyala pun, ga masalah tuh dimasukin ke tas.

Mau nulis ? tinggal ambil keyboard, lalu teken tombol keyboard sembarang, udah langsung ke tampilan desktop dengan Chrome yang siap dibuka.

Thanks buat fitur face recognition unlock, saya jadi ga perlu ngetik password lagi.

Kalau sedang buru-buru, ya tinggal langsung masukin aja tanpa khawatir perangkat lagi ngeluarin panas lewat kipasnya..

Orang ga ada kipasnya juga.. 

Hahahaha..


Daya yang digunakan TAB lebih rendah, dan daya tahan batre lebih lama

Sungguh gess, tidak ada yang lebih melegakan kalau tau bahwa perangkat yang kita gunakan untuk kerja sehari-hari itu ternyata lebih hemat energi.

Untuk konsumsi daya, Samsung TAB S6 lite milik saya rata-rata memakan sekitar 6.99 Watt dengan maksimum daya 8.79 Watt ketika beban kerja intens.

Penggunaan Daya Tablet Android dibanding Netbook
Tabel perbandingan konsumsi daya antar Tablet
sumber : Notebookcheck.net


Pada iPad 7 2019, daya rata-rata yang digunakan adalah sekitar 11.3 dengan maksimal di 12.5 Watt ketika diberikan beban kerja yang berat.

Nah, sekarang bandingkan dengan netbook Samsung N150 saya tadi yang ternyata idle saja sudah makan 8.3 Watt.

Penggunaan Daya Tablet Android dibanding Netbook
Konsumsi daya Netbook Samsung N150
Sumber : Notebookcheck.net


Kalau diberikan beban kerja yang lebih berat, netbook tersebut bisa makan daya sebesar 15.7 Watt.

Hampir dua kali lipat dari TAB S6 Lite.

Dua kali lipat itu cukup besar bagi penggunaan jangka panjang lho.

Lumayan..

Sekarang bayangkan lagi penggunaan Laptop Notebook yang notabene menggunakan daya lebih besar dari netbook.. 

Wuiihh..

 

Nah, ternyata disamping lebih hemat energi, daya tahan batrenya itu bisa sampai setengah hari lho, walau digunakan untuk aktifitas yang lumayan berat seperti ngegambar intens contohnya.

Ya, setengah hari untuk gambar bagi saya bagus banget, kalau batre habis ya tinggal charge.

Lagian ngegambar setengah hari itu pasti kita udah capek banget.

Tab di charge, kita juga istirahat men..


Tapi kalau cuman blogging ya bisa sehari - dua hari tanpa charge.

Itupun dengan Samsung DEX (mode desktop) yang aktif.

Mode tablet mungkin bakal lebih awet lagi..


Lupa bawa charger? Tenang, yang punya buanyak..

Pernah saya ketinggalan charger laptop ketika buru-buru ngampus (buru-buru mulu ah..)

Alhasil ketika batre drop, kita hanya bisa bengong sambil berpikir adakah temen yang punya charger sejenis..

Paling ujung-ujungnya malah minjem laptop orang..

netbook & charger yang harus selalu bersama..
ps: mahasiswa jaman dulu sering bawa extension cord (colokan) kemana-mana untuk menunjang produktifitas


Kan gengsi lah ya.. apalagi laptop temen itu ternyata isinya aneh-aneh, bikin saya males ngerjain tugas atau bahkan blogging (karena teralihkan)

Dibandingkan ketika sekarang saya pakai TAB, saya malah pede ga bawa charger.

Kan yang pakai HP dengan konektor USB-C banyak jaman sekarang.

Tinggal mengejitkan alis aja gess..


Bisa dibuat lebih ergonomis

Karena TAB yang berdiri sendiri dan bisa dipisah dengan keyboardnya, memungkinkan kita untuk mencari posisi yang lebih nyaman buat leher dan lengan dan tangan.

Untuk posisi tab, kita bisa buat sedikit lebih tinggi sesuai dengan level mata supaya leher tidak nunduk-nunduk

Kemudian untuk keyboard diletakkan di meja yang sejajar dengan perut yang membuat lengan atas dan bawah pada posisi istirahat dengan siku yang menekuk 90 - 100 derajat

ilustrasi posisi ergonomis


Hasilnya badan jarang ada yang sakit, produktifitas pasti meningkat!

Coba kalian lakukan itu pada laptop, posisikan layar lebih tinggi.

Paling keyboard juga ikutan tambah tinggi, lalu tangan kalian cepat pegal.

Ujung-ujungnya ya harus nambah keyboard eksternal pada laptop, yang membunuh portabilitas laptop itu sendiri.


Akses ke Playstore dengan banyak aplikasi dan game yang oke

Saya pikir akan ada banyak orang yang tidak setuju dengan pendapat saya yang satu ini.

Saya pun awalnya berpikir demikian, karena orientasi saya bukanlah gaming, tapi kerjaan.

Program utama yang saya gunakan juga tidak banyak, hanya browser seperti chrome, video editor seperti Rush dan VN, Krita buat gambar digital, dan beberapa aplikasi Office.

Nah, untuk setup saya kalian bisa baca lebih jauh di artikel Setup & Aplikasi TAB S6 Lite yang Dapat Membuat Kamu Lebih Produktif

Tapi ketika kalian bosan kerja, tab ini juga merupakan perangkat rekreasi yang baik dengan berbagai pilihan game dan aplikasi yang dapat membuat mood kalian pulih kembali.

Dengan adanya playstore di perangkat ini, juga akan membuka berbagai kemungkinan kedepannya.

Contohnya saja aplikasi Krita yang sekarang masih di tahap early access.

Seperti yang kalian tau, krita merupakan software digital painting di desktop yang kemampuannya tidak bisa diragukan

Dan sekarang aplikasinya ada di Playstore!

Tidak kebayang lagi beberapa tahun kedepan, mungkin Tab Android bakal support aplikasi yang memiliki fungsi seperti After Effect ? ga ada yang tau..


Tab Android, jika dibandingkan dengan laptop tentu kalah jauh dari segi performa mentah. Kecuali jika Tab Android kalian ditenagai ...

Thursday, June 18, 2020

Inilah Alasan Kenapa HP Smart, Tapi Teknologi Batre Masih Belum Canggih !

Kenapa batre cepat habis dan belum canggih
Pagi hari bikin kopi, enaknya sambil baca berita dan video Youtube di HP

Eh ternyata batre sekarat dan minta segera di charge.

Sial, saya lupa charge kemarin karena ketiduran

Duh, kebiasan..

Eh, tapi bentar bentar.. kenapa ya smartphone jaman sekarang yang katanya canggih itu, hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam, walaupun itu hanya penggunaan normal ?

Nah lho ?


Ada apa dengan batre ?

Banyak yang tanya, kenapa smartphone yang begitu canggihnya sekarang ini, daya tahan batrenya terkesan kecil untuk sebuah perangkat mobile modern.

Sekedar untuk perbandingan, Nokia 3310 lama (rilis di tahun 2000), yang menggunakan teknologi Li-Ion berkapasitas hanya 1000 mAh,  seperti dilansir telegraph.co.uk, mampu bertahan selama satu minggu tanpa di charge sekalipun.

The original 3310’s battery would last about a week

Lompat ke generasi selanjutnya, Nokia N95 (rilis tahun 2007) yang menggunakan Li-ion 950 mAh mampu bertahan selama 220 jam, atau selama 9 hari.

Lalu ada Blackberry Pearl di tahun 2010 yang bedasarkan data GSM Arena, mampu standby di 432 jam, atau 18 hari dengan Li-ion 1150 mAh

Wow, semakin lama saja daya tahan ponsel tersebut.

Sekarang bandingkan dengan smartphone paling canggih dah.

Asus ROG Phone II dengan Li-Po battery 6000 mAh yang memiliki endurance rating 114 jam, atau sekitar 4 - 5 hari.

Atau kalau kalian Apple fanboy, iPhone 11 Pro Max hanya bertahan 102 jam, atau sekitar 4 harian.

Disini, ketahanan perangkat itu tiba-tiba menurun, 

Lho kok ?

Padahal, kapasitas batrenya itu sudah sekitar 6 kali lebih besar.


Emang sih, penggunaan daya setiap perangkat itu berbanding lurus dengan kemampuannya. Jadinya semakin canggih perangkatnya, semakin banyak juga ngabisin daya

Tapi kenapa HP tambah smart malah makin cepat loyo ?

Kenapa tidak dibuat tahan lebih lama ? Tambah kapasitas batre jadi 20,000 mAh misalnya..

Teknologi kan semakin canggih ?


Begitu kurang lebih cuitan orang-orang...

Perkembangan teknologi batre tidak secepat perkembangan smartphone.

Menganalisa tren perkembangan batre tidak semudah sekedar browsing di beberapa website.

Ada argument yang pro terhadap statement diatas, banyak juga yang kontra.

Tapi disini saya jelaskan, tolak ukur penilaian terhadap ketahanan batre bukanlah standby time.

Jadi ya, cerita diatas kurang relevan.


Memang sih, kalau dipikir-pikir lagi, perkembangan pesat smartphone kita, entah android atau iphone tidak dibarengi oleh perkembangan teknologi batre yang sepadan.

Masih belum.

Ini dikarenakan karena tantangan terhadap development batre menurut saya sangatlah tinggi.

Mulai dari aspek teknis, politik, pendanaan riset, dan lain sebagainnya.

Dan disini, saya suka mengutip ide salah satu professor di MIT, Nicholas Negroponte yang membagi teknologi menjadi dua jenis.

Yang pertama teknologi berbasis atoms, yang kedua berbasis bits.

Nah, untuk yang berbasis bits, teknologinya didorong oleh perkembangan IT yang tumbuh secara eksponen dan mampu melipat-gandakan kemampuannya setiap beberapa tahun.

Smartphone dengan segala chipset yang sering dibahas orang cohtohnya.

Tapi disini batre masuk ke teknologi berbasis atoms, yang mengandalkan pure material, dimana tantangan terberatnya saat ini adalah menemukan material yang lebih ringan dan efisien selain lithium.

Apa itu berarti kita akan terjebak dengan teknologi Lithium-ion sampai akhir hayat kita ?

Tidak juga!

Nah, dengan ngetrend nya mobil elektrik seperti Tesla, saya pikir riset di bidang batre ini akan semakin digalakkan.

Untuk sekarang, ada beberapa ide alternatif, seperti menggunakan Graphene, teknologi Lithium-Silicon, Solid State Battery, dan yang lainnya yang masih digodok sebelum dapat secara aman dan efektif digunakan pada smartphone.

Sssstt... dan saya dengar-dengar juga, batre dengan teknologi graphene mampu membuat proses charging jauh lebih singkat tanpa mengorbankan umur batre, dengan kerapatan energi sekitar 60% lebih rapat dibanding Lithium-Ion yang banyak kita andalkan sekarang. 

Potensi batre dengan material graphene
potensi graphene dibanding Li-ion tradisional
sumber : nanographene.net


Ditambah juga heat-dissipation yang lebih baik, dijamin bikin ngiler para gamer.

Ini artinya, kalau sampai kejadian, perangkat kita akan jadi lebih tipis dan adem.

Tapi sampai saat itu tiba, sepertinya kita harus bersabar.

Bottomline

Walau memang iya perkembangan teknologi batre tidak secepat perkembangan teknologi smartphone, setidaknya semakin kesini smartphone kita semakin efisien dalam penggunaan daya lho.

Jadi jangan terlalu khawatir

Apalagi sudah ada beberapa kandidat alternatif, yang siap menggeser kejayaan Li-ion dalam beberapa tahun kedepan.

Selow aja pokoknya..

Menurut kalian gimana ?

Pagi hari bikin kopi, enaknya sambil baca berita dan video Youtube di HP Eh ternyata batre sekarat dan minta segera di charge. Sial, saya lu...