Showing posts with label Digital Art. Show all posts
Showing posts with label Digital Art. Show all posts

Monday, July 12, 2021

Edit Foto Jadi Anime Dengan Capcut Anime Filter

Cara Edit Foto Jadi Anime di Capcut Android

Capcut bisa buat edit foto jadi Anime! 

Siapa sangka video editor paling PRO di Android ini ternyata bisa disalahgunakan jadi photo editor!

Bentar,, bentar,, 

Bagaimana mungkin ?

Edit foto di Capcut ?

Yak! bagi yang belum tau, Capcut ini merupakan aplikasi video editor besutan negeri Tiongkok yang kemampuannya bisa dibilang sangat oke, melebihi kemampuan dari video editor lain di Android

Dan ternyata bisa menyunting video saja tidak cukup bagi aplikasi unik yang satu ini.

Teknologinya yang didukung oleh AI membuat aplikasi Capcut ini memiliki banyak fitur, salah satunya untuk mengenali fitur wajah dan tubuh manusia

Hasilnya, kita bisa memisahkan subjek dengan latarnya tanpa melakukan roto-brushing yang memakan waktu lama.

Dan tidak hanya sampai disitu

Face recognition yang ada di Capcut juga mampu mengolah data fitur wajah kita dan dijadikan berbagai art-style unik, salah satunya melalui filter Anime

Semakin mantap saja!

Nah, pastinya kita penasaran dong, gimana wajah kita kalau dibuat jadi karakter anime..

Oke, kalau begitu tanpa panjang lebar lagi, bagi kalian yang penasaran juga bagaimana cara edit foto jadi anime secara instan boleh coba nih Capcut Anime Filter dengan cara yang juga akan saya share di bawah

Tutorial edit foto jadi Anime dengan Capcut

Untuk dapat mengubah foto kita jadi anime, persiapkan dulu nih beberapa item yang akan digunakan

Foto selfie ?

Pastinya dong!

Usahakan foto yang kita gunakan itu wajahnya jelas, tidak pecah-pecah.

Pokoknya yang paling cantik atau paling ganteng dah.

Pastikan juga kalau ponsel yang akan kita gunakan sudah terinstal aplikasi Capcut didalamnya.

Kemudian, untuk proses aplikasi filternya, kita bisa mengikuti langkah-langkah dibawah ini

  1. Buka aplikasi Capcut
  2. Buat project baru, namanya bebas
  3. Mulai mengimport foto yang ingin diedit
  4. Pastikan foto terpilih di timeline, lalu pilih menu style

    Cara edit foto jadi anime dengan filter anime capcut android
    pilih klip yang diimport, kemudian pilih menu style

  5. Temukan dan pilihlah filter anime 

    Cara edit foto jadi anime dengan filter anime capcut android
    kumpulan menu style Capcut

  6. Jika sudah beres, klik ikon centang di sebelah kanan

    Cara edit foto jadi anime dengan filter anime capcut android
    tinggal klik ok dan export

  7. Untuk menyimpannya, silahkan export video.

Mudah sekali bukan ?

Pas banget nih bagi kita yang sekedar suka coba-coba dan iseng karena penasaran gimana sih wajah kita kalau digambar jadi anime..


Nah, mungkin ada diantara kita yang bertanya-tanya, kenapa harus simpan sebagai video.

Sebetulnya Capcut tidak memiliki pilihan untuk export dalam bentuk gambar.

Jadinya, kita mesti screenshot video yang diexport tadi untuk mendapatkan gambar jadi.

Dan sayangnya lagi nih ya, filter / style anime ini hanya berlaku untuk foto saja.

Untuk video masih belum didukung

Mudah-mudahan nanti seiring meningkatnya kemampuan Android, pasti filter ini bisa digunakan untuk video juga dah.


Oh iya, selain mengubah wajah jadi anime, ada beberapa style lain yang kita bisa coba

Misalnya Baby Face, 3D cartoon, 3D Zoom, Big Head, Cartoon, Sketch, dan Comic.

Jadi kalau karakter anime bukan hal favorit, kita punya banyak pilihan style lain.


Oke sekian dulu sharing-sharing kali ini.

Jika masih ada yang mengganjal, silahkan tuliskan di kolom komentar ya

Sampai jumpa !

Capcut bisa buat edit foto jadi Anime!  Siapa sangka video editor paling PRO di Android ini ternyata bisa disalahgunakan jadi pho...

Wednesday, April 21, 2021

Ini lho Aplikasi Referensi Foto "Always on Top" Terbaik Ketika Gambar di Android

Aplikasi Floating Galery Untuk Referensi Gambar Ketika Melukis Menggunakan Tab Android

"Selalu menggunakan referensi", merupakan salah satu saran yang disampaikan oleh para master ketika kita baru belajar yang namanya melukis digital.

Nah, jika kalian merupakan seseorang yang melukis di PC, ini bukanlah hal yang sulit, karena akan ada banyak cara dalam setup gambar referensi di PC itu sendiri.

Namun bagaimana jika kalian adalah orang yang seperti saya, yang lebih suka hal yang simpel dengan menggambar di tablet Android ?

Apa mesti dicetak dulu gambarnya ? 

Atau harus mengorbankan spasi layar untuk di dual window, untuk aplikasi gambar dan galeri ?

Tentu tidak..

Untuk lebih jelasnya, mari simak sama-sama

Apa yang kita butuhkan untuk sebuah referensi

Gambar referensi merupakan citra yang mengandung informasi yang kita perlukan dalam proses re-creation atau pembentukan ulang untuk menjadi sebuah karya yang baru.

Referensi yang baik itu adalah gambar yang memiliki pencahayaan dan pose yang bagus.

Semua orang tau itu..

Tapi ada satu lagi yang wajib untuk gambar referensi.

Yaitu harus viewable, atau dapat dilirik terus..


Nah, permasalahan akan muncul ketika kita menggunakan tab Android, dimana sistem ini tidak mampu mengatur aplikasi pilihan kita (galeri contohnya), untuk dapat muncul diatas aplikasi lain.

Dan jika kita memutuskan untuk multi window, sebagian layar kita harus kita korbankan demi untuk dapat melihat referensi.

Tentu ini tidak asik, karena layar tab yang pada umumnya 8 - 10 inchi itu sudah masuk kategori kecil jika digunakan untuk digital painting.

Lalu apa solusinya ?

Nah, saya akan review sebuah aplikasi yang akan membuat situasi ini lebih baik.

Namanya Floating Gallery


Sekilas tentang Floating Gallery

Aplikasi ini merupakan aplikasi yang sangat ringan, bersih dari iklan, dan sangat sesuai dengan fungsinya yang sederhana.

Aplikasi Floating Galery Untuk Referensi Gambar Ketika Melukis Menggunakan Tab Android
Tampilan Floating Gallery ketika beraksi

Dikembangkan oleh pengembang bernama Neosixth, aplikasi ini pertama dirilis pada bulan Mei 2020 kemarin di playstore

Walau belum ada update satupun sampai saya menulis ini, performa dari aplikasi ini cukup stabil dan dapat diandalkan 


Fitur-fitur Floating Gallery

Simpel, itulah bedanya Floating Gallery dengan aplikasi yang ada di playstore dengan fungsi sejenis.

Frame dari tampilan utamanya sangat minim, bahkan dengan tombol yang pas banget.

Sangat sesuai untuk sebuah aplikasi yang nongol diatas aplikasi lain.

Tidak terlalu makan spasi banyak, jadi tampilannya tidak terlalu mengganggu kita ketika fokus menggambar.

Kontrol yang sederhana

Hanya ada lima kontrol utama yang masing-masing memiliki fungsi yang tidak dapat diabaikan.

Aplikasi Floating Galery Untuk Referensi Gambar Ketika Melukis Menggunakan Tab Android
Setiap kontrol yang ada di Floating Gallery


Yang pertama kontrol drag yang berfungsi untuk menyeret dan menggeser lokasi gambar referensi ke area layar yang kita tentukan.

Kontrol yang berlogo burung ini juga berfungsi untuk menyembunyikan dan menampilkan gambar referensi ketika kontrol tersebut disentuh sekali.

Kemudian yang kedua, ada kontrol browse yang hanya tampil ketika gambar referensi ditampilkan.

Nah untuk browse ini, fungsinya adalah untuk membuka galeri untuk kita, supaya dapat memilih gambar referensi.

Kemudian yang ketiga, disebelah kontrol browse ada kontrol rotate image yang berfungsi untuk mengubah memutar gambar referensi hanya dalam Floating Gallery ini.

Yang keempat, di bagian bawah ada fungsi resizable window, yang dapat membuat viewport Floating Gallery ini lebih besar atau lebih kecil sesuai kemauan kita.

Lalu yang kelima, yang mungkin sudah familiar

Yaitu close button.

Fungsi ini hanya akan muncul ketika gambar referensi disembunyikan.

Untuk fungsinya, mungkin sudah self-explanatory ya.., yaitu untuk menutup aplikasi ketika sudah tidak diperlukan

Dan yang terakhir merupakan fungsi zoom & drag image yang dapat kalian akses dengan gestur dua jari untuk zoom in atau out pada gambar referensi kalian.  


Always on Top

Ini merupakan fungsi utama yang sangat saya cari-cari.

Yaitu selalu nongol diatas aplikasi lain, walau user menekan sebuah elemen di aplikasi lain tadi.

Hanya ada satu permission request yang haru kalian izinkan setelah menginstal Floating Gallery ini, yaitu display over other application.

Tapi tenang saja, permission request ini ada karena fungsi utama dari aplikasi ini, bukan karena aplikasi ini berbahaya atau gimana-gimana.

Nah, entah karena aplikasinya yang sederhana atau memang solid, tidak pernah saya temui kejadian dimana Floating Gallery ini tiba-tiba menghilang dari layar ketika ditampilkan diatas aplikasi gambar.

Jadi memang sangat dapat diandalkan.


Oh iya, satu lagi..

Salah satu alasan kenapa saya suka menggunakan aplikasi ini sebagai viewer untuk gambar referensi, adalah kelebihannya untuk tetap pada level zoom yang ditentukan.

Walau pada aplikasi gambar digital saya zoom-in dan zoom-zoom out sesuka hati, Floating Gallery tidak akan ngikut, tapi malah mempertahankan posisi referensi yang telah kita set.

Sungguh sesuai dengan apa yang saya mau..


Tapi hanya ada satu kelemahan

Satu hal yang kurang saya sukai dari Floating Gallery ini adalah nihilnya fitur share antar aplikasi.

Maksud saya adalah ketika kita membuka gambar dengan sebuah aplikasi, contohnya Stock Gallery (galeri gambar bawaan ponsel), dan kita coba share gambar yang kita inginkan, Floating Gallery tidak akan ada didalam daftar aplikasi yang dapat menerima gambar itu tadi.

Jadi ya segalanya harus melalui aplikasi Floating Gallery.

Sungguh disayangkan sebetulnya, tapi tidak apalah..




Nah itu dia review singkat saya terhadap sebua aplikasi simpel yang mampu menjalankan fungsinya, bernama Floating Gallery

Kalian dapat mendownloadnya langsung melalui tombol dibawah ini.

Get it on Google Play

Bagaimana pendapat kalian ? Silahkan share di kolom komentar di bawah ya..

Kalau kalian masih ada yang mengganjal di pikiran, kalian bisa share juga di sana

"Selalu menggunakan referensi", merupakan salah satu saran yang disampaikan oleh para master ketika kita baru belajar yang n...

Wednesday, April 14, 2021

Review Krita di Android, Pengalaman Gambar Ala PC langsung dari TAB Android

Review Krita Android: Aplikasi Gambar Karikatur & Anime di Android

Ada banyak pilihan aplikasi gambar (painting) yang ada pada perangkat Android.

Dan banyak pula yang memiliki rating bagus di Play Store.

Tak terkecuali aplikasi gambar model desktop yang akan kita bicarakan ini

Namanya Krita gess..


Sekilas tentang Krita

Bagi kalian yang sudah lama berkecimpung di dunia digital art, mungkin sudah tidak asing lagi yang namanya Krita.

Baik menggambar karikatur, anime, atau illustrasi digital lalinnya, minimal kalian pernah dengar nama program ini.

Review Krita Android: Aplikasi Gambar Karikatur & Anime di Android
Krita android
Artwork by : Tyson Tan

Krita ini merupakan software lukis digital yang sangat terkenal di desktop/PC.

Bahkan kepopuleran perangkat lunak ini sampai menyaingi Photoshop lho..

Tidak tanggung-tanggung Krita juga dianugrahi penghargaan sebagai The Best Free Painting Software di tahun 2019 oleh Techradar.

Melihat kesuksesannya di PC, ternyata sekarang Krita melebarkan sayap dengan merilis project porting yang dirilis di Play Store oleh developer Stiching Krita Foundation

Walau masih tahap Early Access, tapi aplikasi ini cukup solid dipasang di Tab Android (tidak termasuk HP Android)


Fitur Krita Android

Dalam dokumentasi resminya, sang developer mengatakan bahwa Krita Android memiliki fitur yang sama dengan yang dimiliki pada versi desktopnya.

Ya ini merupakan kabar yang bisa dibilang menyenangkan, tapi juga sedikit mengecewakan.

Senangnya kalau kini kita punya aplikasi kelas profesional yang ada di Android

Sedihnya ya ketika tau kalau ternyata aplikasi ini tidak teroptimisasi dengan antarmuka layar sentuh tablet Android, sehingga kita perlu menambah peripheral lain untuk dapat bekerja secara maksimal, seperti desktop pada umumnya.

Keyboard eksternal contohnya

Mengapa demikian ? mari kita lihat dulu fitur-fitur unggulan aplikasi ini yang membedakannya dengan aplikasi gambar lainnya di Android..


Dari segi tampilan

Jika kalian memperhatikan antarmuka dari aplikasi ini, pasti kalian akan langsung teringat dengan program komputer.

Ya program yang iconnya kecil-kecil dan banyak itu..

Window-window yang ter-dock dalam sebuah workspace di Krita ini, seperti menyajikan semua hal, bahkan sampai yang terkecil, yang kita perlukan dalam melukis digital

Tampilan Krita Android
tampilan workspace Big_Paint default


Untuk aplikasi profesional gratisan (dan tanpa iklan), secara pribadi saya sangat menyukai antarmuka Krita Android yang memungkinkan untuk di setel ulang sesuai keinginan.

Jendela-jendela yang bisa di un-dock dan diatur sedemikian rupa memungkinkan kita untuk dapat membuat aplikasi ini berjalan seefisien mungkin.

Contohnya saja menghilangkan beberapa window yang tidak dibutuhkan, karena ukuran layar Tab yang terbatas.

Saya pribadi merupakan orang yang banyak bekerja menggunakan layer, sehingga saya lebih senang kalau window layer diperbesar, walau harus menghilangkan window brush preset.

Toh juga brush preset dapat dipilih melalui pop-up pallete (yang saya set dengan shortcut "esc" pada keyboard) 

Tampilan Custom Workspace Krita Android
pemberian spasi lebih ke layer management
dan fungsi pop-up pallete untuk pilihan brush

Dan untungnya, workspace modifikasi kita dapat disimpan, sehingga tidak ter-reset ketika kita memulai ulang Krita .


Namun, karena tampilan yang diadaptasi langsung dari desktop, sepertinya touch interface menggunakan jari sangat sulit dilakukan.

Inilah mengapa sepertinya Krita hanya akan bisa digunakan dengan baik di Tab Android ber-stylus, atau dengan tambahan graphic tablet

Dan sampai saya menulis ini, masih belum ada fitur yang sangat memudahkan kita pengguna tablet dalam menjangkau tool-tool dan konfigurasi secara cepat tanpa harus mencari-carinya lagi di toolbox, selain menggunakan shortcut keyboard.

Yang mana mengarahkan kita pada fitur selanjutnya..


Kustomisasi penuh keyboard shortcut 

Nah, sudah paham kan kenapa kita mesti menambahkan keyboard pada Tab kita ?

Sebetulnya ini bukanlah sebuah kelemahan dari aplikasi Krita ini, melainkan adalah sebuah fitur yang disediakan untuk menunjang pekerjaan kita supaya bisa menjadi lebih cepat lagi.

Dan untungnya, kita tidak perlu banyak menghapal shortcut baru dalam aplikasi ini, karena ternyata shortcutnya itu hightly customizable, alias bisa kita buat sendiri.

Satu hal lagi yang sangat mengejutkan saya adalah adanya preset shortcut Photoshop, untuk mempercepat setelan shortcut, khusus bagi mereka yang terbiasa bekerja menggunakan Photoshop!

Time is money, bro!


Fungsi

Nah, sekedar info nih, selain fokus utamanya di bidang digital painting raster, ternyata Krita juga support terhadap Vector dan animasi frame by frame.

Dan fitur-fitur tersebut juga ternyata ikut disematkan di versi Androidnya!

Agak bikin kaget sih, karena saya kira Krita ini hanya untuk gambar raster saja.


Dengan Vector tool, kita dapat membuat logo dan vector art, seperti halnya Adobe Illustrator ataupun CorelDraw di PC.

Untuk fitur animasi frame by frame, saya pribadi sudah sempat mencobanya

Saya suka model timeline yang mirip Flash atau Animate itu, karena memberi banyak kontrol dan navigasi timeline.

Dan saya rasa fitur animasi ini cukup smooth dan oke, walau bagi saya bisa ditingkatkan lagi di bagian sound ketika scrubbing timeline.

Wah, jadi semakin mantap saja Tab Android kini!


Tapi ada satu hal yang sebetulnya agak mengganggu saya..

Kenapa ya, dengan kemampuan yang sebegitu kerennya Krita ternyata tidak mendukung  manipulasi foto seperti Photoshop ?

Padahal kalau bisa kan keren abis..

Tapi tidak apa lah, kan ada Photopea.com


Performa

Bagi kalian yang baru akan mencoba aplikasi ini, kalian akan terkaget-kaget dengan performa dari si Krita Android ini.

Dukungan OpenGL canvas membuat proses lukis menjadi lebih smooth, dan tidak lag ketika menggeser kanvas atau ketika zooming in/out.

Begitu juga ketika kita menggoreskan brush...

Pokoknya mulus aja gitu..

Cuman ya sayangnya ketika kita set canvas dengan resolusi tinggi (dengan kerapatan diatas 200 dpi), dan membuat goresan dengan brush size yang besar juga, lag akan mulai terasa..

Tapi saya rasa itu lebih ke keterbatasan kemampuan perangkat Tab Android kita ya..

Dan walau begitu, kita tetap dapat membuat gambar yang menakjubkan lho, karena goresan brush yang oversize bakal jarang banget dilakukan..

Kecuali kalian pro (atau gila) dan emang sengaja gores brush sebesar kanvas dalam sekali gores

Untuk overall performa dua jempol deh..




Masa Depan Tablet Android sepertinya akan semakin cemerlang saja seiring munculnya aplikasi-aplikasi profesional yang mendukung produktifitas penggunanya..

Ini bukan sekedar omong kosong belaka, sudah mencobanya

Mungkin kalian sudah tau kalau saya sebulan belakangan ini baru mulai belajar digital art.

Dan bukan program komputer yang pertama kali saya gunakan untuk latihan, melainkan Tab Android Samsung S6 Lite milik saya.

Hasilnya ? cukup memuaskan..

Bahkan ada saja yang memuji hasi lukis saya di TAB S6 Lite ini


Nah, jika kalian memiliki Tab Android dan tertarik di dunia digital art, kalian bisa coba nih aplikasi..

Emang agak mengintimidasi di awal, karena interfacenya yang agak ribet..

Tapi seiring berjalannya waktu, kalian pasti akan familiar.

Tutorial gambar banyak ada di youtube..

Saya aja bisa, kalian pasti bisa juga..


Ada banyak pilihan aplikasi gambar (painting) yang ada pada perangkat Android. Dan banyak pula yang memiliki rating bagus di Play ...

Sunday, March 28, 2021

Belajar Menggunakan Warna di Krita Android (Samsung Tab S6 Lite)

Belajar Menggunakan Warna di Krita Android

Setelah beberapa kali menyelesaikan portrait hitam putih, akhirnya saya bosan dan tertantang untuk tidak hanya main di value saja.

Saya ingin coba riwehnya main hue (temperatur) dan saturasi, seperti yang orang-orang bilang.

Biar lebih bebas berekspresi, mas!

Ini demi kemajuan diri saya sendiri sebagai seorang illustrator  pemula.

Nah, untungnya, pada kesempatan kali ini ada yang nawarin diri jadi subjek gambar.

Dan kebetulan dia itu cewe, 

Pas banget lah..

Jadi langsung aja saya mintain pap, kali aja berhadiah, kan... 😝


Proses Gambar

Karena kali ini saya memutuskan membuat ilustrasi, saya ambil beberapa foto sebagai referensi.

Untuk jumlahnya tidak saya tentukan, hanya saja kebetulan saat itu saya perlu contoh ekspresi wajah, seragam, pose badan, dan aksesoris yang biasa model gunakan.


Konsep

Oh iya, untuk konsepnya sendiri saya ingin membuat sebuah karakter yang terinspirasi dari sang model.

Bukan karakter yang beda sih, bisa dibilang ini si model sendiri (karena memang iya)

Nah, kebetulan dia adalah mantan kolega saya ketika kerja di Hotel, 

Dia merupakan salah seorang partner yang brilian, tapi paling bandel

Kalau tidak suka sama sebuah task dalam list kerjaannya, ga bakal dia kerjakan

Alhasil partner satu shift, atau shift setelahnya lah yang menderita 😤

Yah, cepat atau lambat si "princess" ini harus belajar menyelesaikan pekerjaannya, walau tidak ia sukai,

Walau tidak di hotel yang sama lagi, di tempat lain pasti bakal di push seperti itu..

Itu sih pesan dari ilustrasi ini..


Eksekusi 

Di tahap awal, saya lay-in sketch dulu mas, biar ga buta-buta amat lah..

Fase yang satu ini penting banget supaya kita itu ga terpaku sama detail yang kecil

Ya mainnya ke big-shape lah, biar flowing gitu corat-coretnya.


Biasanya di moment saya melakukan sketching ini, saya bisa melihat beberapa garis yang emang oke.

Saya perberat lagi garis tersebut, sampai dapet bentuk keseluruhan dari karakter ini

Kemudian, di tahap selanjutnya, saya buat layer baru untuk memroses lineartnya.

Di bagian ini, penting banget untuk membuat garis yang bersih dan jelas

Dan ini merupakan salah satu kelemahan saya, karena saya orangnya ga sabaran.

Saya juga mengindari untuk membuat shadding pada tahap ini, supaya gampang nanti tidak mengganggu ketika shadding dengan warna.

Lineart dan sketch dibawahnya (opacity turun di 10%)

Nah, setelah lineart kerasa oke, saya masukkan local color  

Ga sulit sih dalam milih warna, karena ada referensi

Tapi saya ga pakai color picking, mau ngelatih sense warna soalnya, hahaha

Berbekal dengan pengetahuan Color Theory yang masih minim dari Proko, saya beranikan diri untuk memberi warna midtone yang ga terlalu terang atau gelap.

Tapi tentunya dengan saturasi warna yang pas.

Tujuannya supaya nanti ketika shading, saya bisa gerak ke value yang lebih gelap, dan ketika memberi light dan higlight, saya bisa gerak ke value yang lebih terang.

Untuk shading, saya geser hue atau temperatur warna sedikit ke warna yang lebih dingin, lalu menurunkan valuenya seidikit.

Lanjut dengan cast shadow yang umumnya lebih gelap dari core shadow..

Baru setelah itu tambah light.

Untuk warnanya saya pakai yang lebih warm supaya balance, 

Naikkan valuenya sedikit, saturasi warna otomatis turun juga dong.

Yap, ketika sudah pas, tinggal bagian akhir favorit saya, nambah highlight.

yaa, gak jelek-jelek amat lah ya..

Oh iya, hasil akhirnya agak beda sama yang di sketch,

Aneh aja liat dia ga pake kacamata..

Saya pasang aja deh..  (+ ektra kodok) 

hahaha


Bonus:

Ada satu lagi nih hasil ilustrasi dengan warna

Baru aja selesai, berbarengan dengan tulisan ini di publish

Jadi saya sertakan saja lah ya..,

Mudah-mudahan kalian suka :D



Setelah beberapa kali menyelesaikan portrait hitam putih, akhirnya saya bosan dan tertantang untuk tidak hanya main di value saja. Sa...

Saturday, March 20, 2021

Shading Lebih Lanjut Menggunakan Solid Brush Di Krita Android

Belajar shading menggunakan Krita Android

Apa?! tulisan tentang gambar lagi ??

Yak, betul, 

Kalian akan lihat post seperti ini sepanjang minggu!

Hahaha..

Tapi kan masih ada hubungannya dengan Android toh ya.

Jadi ga usah lebai mas


Ngomong-ngomong nih, kali ini saya ingin berbagi update tentang apa yang saya pelajari ketika mendalami struktur dan bidang wajah.

Sejauh apa?

Mari kita simak sama-sama..

Kok struktur dan bidang terus sih ?

Iya, karena ini  penting mas..

Menggambar ternyata bukan sekedar corat-coret .

Artist terkenal sekalipun, walau kelihatanya dia ngaco, tapi ternyata setiap goresannya itu diperhitungkan lho.

Nah, itulah yang ingin saya kuasai, mas.. apa-apa saja yang perlu diperhitungkan ketika memberi goresan.

Karena saya tidak ingin ketika saya gambar, eh malah sibuk memperbaiki setiap kesalahan yang saya buat.

Gambar itu mesti efektif, dan tau betul apa yang saya lakukan.

Makanya perlu latihan dan latihan lagi.

Dan untuk gambar kali ini, saya rasa feel nya udah mulai dapet loh.

Udah ga buta arah lagi ketika shading, terutama di bagian rambutnya.

 


Ya, sebuah lompatan lagi bagi perjalanan saya untuk jadi artis papan surfing..


Kendala dalam proses gambar ini

Ketika saya bilang udah mulai dapet feelnya, bukan berarti tidak ada kendala dalam proses ini.

Ada satu hal yang tidak masuk ke perhitungan saya ketika memilih gambar referensi.

Saat itu, ketika mulai pindah dari sketching ke pemberian local color, saya mulai berpikir tuh, ini shadingnya gimana ya ?

Soalnya saya baru sadar kalau lightning dari foto referensi saya ternyata tidak terlalu bagus untuk orang yang baru belajar struktur.

Shadownya kurang dapet.

Belum lagi ternyata proporsi bidang wajah bayi yang beda sama orang dewasa.

Transisi setiap bidangnya terlalu smooth gitu.

Dan saya sempat memang, saya salah render di awal, 

Malah jadi gambar wajah orang dewasa yang super unyu.

Haduh..

Tapi itu dia mas

Seperti yang dibilang artist terkenal lain, "Melukis itu seperti problem solving" 

Dan tadi merupakan salah satu problem yang saya alami.

Jadi, ya.. rileks aja gitu, tinggal cari solusinya..


Progress penggunaan Brush

Di artikel sebelumnya saya sempat bilang kalau saya mulai beralih dari solid brush tanpa jitter, ke solid brush + jitter opacity (flow diturunkan ke 25%).

Ini menghasilkan brush stroke yang jauh lebih halus, tapi tetap mempertahankan edge atau tepian brush supaya tetap solid.

Seperti yang dikatakan artist-artist terkenal yang saya tonton videonya di Youtube. Sebagai pemula, saya mesti menghindari penggunaan soft-edged brush.

Ini tujuannya supaya saya memahami struktur dan bidang, dan tidak asal main semprot.

Untuk menyesuaikan bentuk brush stroke nya, saya pakai eraser tool untuk sculpting.

Disinilah pentingnya kenapa harus buat shading di layer yang berbeda..


Nah, karena masih belum terlalu biasa dengan tingkah brush ini, saya agak kesulitan dalam kontrol tekanan stylus, untuk mendapatkan brush stroke dengan weight yang saya inginkan.

Alhasil, beberapa kali sempat melakukan double-stroke, dan menghasilkan brush yang overlaping dan ga enak dilihat.

Belum lagi, di beberapa area saya malah membuat shade terlalu pekat.

Nah, maka dari itu, saya juga mencoba melatih diri untuk mengontrol tekanan stylus ini.

Salah satunya menggunakan template Shading Exercise yang saya colong dari channelnya mas Angel Ganev.

ya seilisih kurang lebih 4%, ga terlalu masalah lah..
Kecuali yang block 1 di area shadow itu.

Karena ini murni main feeling, jadi ya penting banget untuk dilatih.

Harapannya sih supaya bisa di luar kepala, sehingga mempercepat proses gambar.

Intinya masih harus banyak belajar lagi dah 😅😅

Apa?! tulisan tentang gambar lagi ?? Yak, betul,  Kalian akan lihat post seperti ini sepanjang minggu! Hahaha.. Tapi kan masih ada hu...

Friday, March 19, 2021

Gambar Instagram Pertama Menggunakan Samsung TAB S6 Lite

Gambar Instagram Pertama Menggunakan Samsung TAB S6 Lite

Huh, setelah sekian hari berkutat dalam "value" pada studi portrait hitam putih, akhirnya saya cukup PD untuk publish gambar pertama saya.

Subjeknya tidak jauh-jauh dari rumah mas, kan ada mantan pacar saya..

Ya karena wajahnya yang agak terkesan nantangin dan ngangenin, akan sangat salah sekali jika saya pilih subjek lain.

Dan ini hasilnya

gambar pertama berdasarkan referensi wajah sang mantan..

Apa yang dipelajari disini

Walaupun gambarnya tidak bagus-bagus amat, setidaknya ada banyak hal yang bisa saya pelajari disini...

Satu diantaranya adalah struktur, sama seperti ketika pertama kali saya mulai gambar, dan saya share perjalanannya di artike ini

Ternyata dengan memahami struktur, kita bisa melukis apapun dan membuatnya menjadi lebih 3D.

Ini terbukti dengan jarangnya saya melihat foto referensi setelah gambar sketsa awal..

Dengan paham struktur, saya jadi sangat terbantu sekali ketika proses shading

Bagaimana bidang tulang pipi yang menonjol dan menghasilkan nilai grayscale berbeda dengan bidang kantung mata yang cenderung cekung.

Dan tentu pada lokasi yang tepat, sehingga sukur-sukur hasilnya tidak jadi seperti wajah yang kena tumor.

Nah, dalam proses gambar ini saya juga baru pertama kali memakai jitter opacity pada brush standar yang saya gunakan.

Sebelumnya kan saya sepenuhnya memakai standar round brush yang solid, tanpa jitter opacity atau size yang bisa di kontrol oleh tekanan stylus.

Karena saya rasa sudah agak memahami struktur dan bidang dari bagian-bagian wajah, kali ini saya nekat coba solid brush dengan mengaktifkan jitter opacity saja.

Dan wow.. ternyata susah mas!

Kalau tidak PD menarik garis, bisa menghasilkan efek brush yang overlapping.

Macem tompel yang tidak enak dilihat.

Tapi seiring latihan di gambar kali ini, saya sadar dan mulai mengerti dalam pengguunaan opacity jitter ini.


Wah, walaupun masih agak kasar, namun ini merupakan sebuah lompatan berarti dalam perjalanan menjadi artist papan tengkurep 

Hahahaha...

Sebetulnya belum pantes di share di Instagram sih,

Cuman ya saya udah capek ngerjain yang satu ini.

Ingin lanjut ke next subject, 

Karena saya rasa masih banyak yang perlu dipelajari lagi..


Huh, setelah sekian hari berkutat dalam "value" pada studi portrait hitam putih, akhirnya saya cukup PD untuk publish gambar...