Tuesday, May 4, 2021

Inilah Alasan Kenapa Batre HP Tidak Perlu Di Charge Sampai 100%

Inilah kenapa jangan charge batre sampai 100%

Ada banyak mitos-mitos yang beredar mengenai bagaimana kita seharusnya memperlakukan batre smartphone kita.

Dulu juga saya sempat merangkumnya dalam sebuah tulisan di artikel Mitos-Mitos Batre

Dan nyatanya, masih banyak yang masih percaya terhadap mitos-mitos tersebut saat ini.

Nah sekarang, saya akan share sebuah pendapat lagi mengenai batre.

Yaitu jangan charge batre sampai 100% .

Apakah itu mitos atau fakta ? mari kita kupas sama-sama


Ada apa dengan batre 100% ?

100% merupakan kapasitas batre tertinggi, dimana setiap sel batre telah tersaturasi dengan maksimal, sehingga tidak mampu lagi untuk menyerap daya yang disuplai oleh adapter charger kita.

Nah, dengan mengisi batre sampai tahap ini, itu berarti kita telah memaksimalkan kemampuan batre yang kita miliki.

Tapi nyatanya, ini bukanlah sebuah pilihan jika kalian merupakan orang yang sangat peduli terhadap umur batre.

Menurut Battery University, batre lithium tidak perlu diisi sampai kapasitas maksimumnya.

Bahkan mereka menambahkan bahwa lebih baik jika batre tidak diisi sampai penuh.

Bukannya isapan jempol belaka lho..

Ini disebabkan karena high-charge-voltage (sekitar 4.20 V/cell) menimbulkan stress terhadap batre, dan titik kritis stress ini dimulai ketika kapasitas batre mendekati 100%.

Bahkan hal ini tidak dapat dihindari ketika batre zaman sekarang yang katanya sudah memiliki sirkuit proteksi sendiri yang akan menurunkan tegangan ketika mendekati level pengisian 100%, dan memutus proses pengisian setelah mencapai titik maksimal.  

Hal ini sejalan dengan statement dari Huawei yang menyarankan supaya kita menjaga kapasitas batre sedekat mungkin dengan kapasitas setengahnya (50%) untuk umur batre yang maksimal.

Ini berarti 40% - 80% merupakan titik manis jika kita ingin melihat batre kita berumur lebih lama.

Temperature

40% charge

100% charge

Tabel: Perkiraan kapasitas yang dapat diperoleh kembali ketika menyimpan Li-ion selama setahun dengan berbagai temperatur dan kapasitas charge

membiarkan batre dengan kapasitas penuh dalam waktu lama memperpendek umur batre

Sumber: batteryuniversity.com

0°C98% (after 1 year)94% (after 1 year)
25°C96% (after 1 year)80% (after 1 year)
40°C85% (after 1 year)65% (after 1 year)
60°C75% (after 1 year)60%
(after 3 months)


Nah, pada smartphone modern, contohnya saja iPhone yang menggunakan iOS 13 keatas, jika kita mengaktifkan mode Optimized Battery Charging, sistem operasi akan menganggap 80% adalah 100% yang baru, dan otomatis memutus aliran listrik jika batre telah terisi sampai kapasitas tersebut.

Pada vendor terkenal lainnya, seperti Samsung, mereka juga menyematkan fitur Protect Battery yang berhenti mengisi ketika sudah mencapai 85%.

Jadi jelas, para pemain besar smartphone juga ikut mempertimbangkan konfigurasi ini.

Dan ini semua tujuannya adalah untuk memperpanjang umur batre produk mereka.


Jadi ini merupakan fakta ?

Yak, betul sekali.

Mengisi batre secara tidak penuh dapat membantu kita dalam memperpanjang umur batre tersebut.

Tapi..

Ada tapinya nih..

Menurut saya, praktik ini memiliki pengaruh sangat kecil, bahkan sering kali dapat diabaikan.

Disamping itu, merupakan hal yang tidak praktis jika kita berusaha menjaga kapasitas batre tetap mendekati setengah dari kapasitas maksimumnya

Menjaga kapasitas batre di angka 20% - 100% yang biasa dilakukan orang-orang dikatakan merupakan "good practice" oleh para expert di bidang ini.

Dan dengan kebiasaan ini biasanya umur batre sudah cukup baik, jika tidak ada kecacatan lain..

Kuncinya adalah untuk tidak membiarkannya sampai habis, atau membiarkannya dengan kapasitas 100% jika ingin disimpan dalam waktu yang lama.

Biasanya, dikalangan pemegang smartphone di Indonesia, sebelum batre smartphone miliknya sekarat,  mereka sudah memiliki perangkat baru, yang berarti juga batre baru.

Ya umumnya pembelian perangkat baru ini terjadi dalam siklus dua tahun sekali.

Jadi dampak positif dari kebiasaan 40%-80% ini mungkin tidak akan dirasakan, karena sudah memiliki perangkat baru tadi.

Beda kasusnya jika kalian berkomitment akan mengganti perangkat hanya ketika perangkat tersebut benar-benar mati.

Mungkin hal ini baru akan bermanfaat dan terasa efeknya.


Nah, itu dia sedikit informasi mengenai batre smartphone saat ini.

Kalian termasuk orang yang strict dalam memelihara batre,  atau biasa aja ?

Bisa tulis pendapat atau pertanyaan kalian di kolom komentar ya..

Artikel Terkait

0 komentar:

Post a Comment